Perang Opini Melawan LGBT

SADARKAH KALIAN BAHWA LGBT SEDANG BERUSAHA MENGENCANGKAN CENGKRAMANNYA, DAN MENGUKUHKAN EKSISTENSINYA?

Mereka memang sedang gencar2nya mengusahakan untuk eksis, agar semakin diakui, agar mereka tidak lagi dianggap sekumpulan manusia dengan kelainan seksual menyimpang, agar makin banyak yang ‘terserang’ virus yang sama

Banyak yang meremehkan pentingnya dakwah dalam hal mengcounter opini2 buruk macam LGBT ini. Coba bayangkan bila hal2 semacam ini terus diperdengarkan dan diperlihatkan di tengah masyarakat, tanpa ada sensor, tanpa ada yang menghalau, tanpa ada yang terus mensyiarkan betapa Allah melaknat perbuatan bejat semacam ini, masyarakat yang awalnya jijik lama2 akan maklum, malah lama2 akan simpati dan mendukung mereka. Na’udzubillahimindzalik !!!

Pernah lihat video clip “symphony” nya zarra larson? Atau coba buka webtoon berbahasa inggris hari ini dan lihatlah apa yang akan anda temukan pada bagian highlight nya ! Itu lah yang kami maksud dengan perusakan opini. Mereka menerobos masuk ke dalam sistem normatif masyarakat, merongrong dari dalam dengan mempengaruhi pola pikir masyarkat, tujuan akhirnya adalah agar mereka didukung, diakui hak2nya, dibiarkan berkembang biak, dibiarkan eksis dan tampil di depan umum layaknya pasangan laki-laki dan perempuan yang sedang berpacaran. Sungguh menjijikkan !!!

Gunakan apapun yang kalian bisa untuk menghalau semua ini. Kalau tidak peduli dengan orang lain, paling tidak lakukan demi anak2 kalian yang kelak akan tumbuh dewasa dan akan berhadapan dengan dunia yang lebih menakutkan daripada saat ini (jika kita tidak mengambil peran untuk menyuarakan penolakan dan kecaman keras terhadap gaya hidup kaum sodom yang dilaknat Allah ini). Sampaikan walau hanya satu ayat yang kau ketahui. Semoga Allah menghitungnya sebagai amal jariyah yang tiada habisnya disisiNya.

Ibrah Dibalik Tragedi “Air Asia QZ5801”

Baru saja selesai melihat reportase mengenai ditemukannya puing-puing kapal yang dicurigai milik pesawat Air Asia QZ5801

Dalam reportase tersebut sekilas dijelaskan bahwa pesawat ini merupakan salah satu pesawat tercanggih yang di produksi di Prancis. Sebuah pesawat yang memiliki sistem komputerisasi mirip seperti pesawat tempur.

Pesawat dengan sistem komputerisasi secanggih ini bukan tidak memiliki kelemahan. dijelaskan oleh salah seorang pakar penerbangan indonesia, kelemahannya akan nampak ketika pesawat tersebut berhadapan dengan fenomena alam serupa awan cumulonimbus yang memilki muatan listrik yang begitu tinggi sehingga sering terjadi kilatan petir di dalamnya, yang menyimpan kandungan air yang sangat banyak sehingga curah hujan di dalam awan sangat tinggi, dan memiliki suhu dingin yg ekstrim.

Awan sejenis ini dapat mengakibatkan gangguan pada pesawat-pesawat yang menggunakan sistem komputerisasi seperti yang terpasang pada QZ5801. kilatan petirnya mampu meledakkan pesawat, curah hujan dalam awan dapat menganggu turbulensi mesin, atau bisa juga suhu udara dingin pada awan tersebut yang dapat mengakibatkan mesin beku dan kehilangan fungsinya.

tanpa mengurangi rasa bela sungkawa pada keluarga awak pesawat dan penumpang yang ditinggalkan, dari kejadian ini kita bisa mengambil ibrah bahwa, sehebat apapun manusia menciptakan suatu teknologi, kekuatan Allah tak akan pernah bisa terkalahkan. jika Allah sudah berhendak, maka kita tak akan pernah bisa mengelak dari ketetapan tersebut. sakit, ajal, dan ujian-ujian lainnya, semua Allah yang menentukan. ajal tak kan pernah bisa diterka kapan datangnya. meskipun manusia sangat ingin melindungi dirinya dari ajal dengan membuat teknologi secanggih apapun, meskipun manusia sampai harus pindah hidup ke Mars pun, ajal itu tak akan pernah tertunda. karena kita tak tahu, kapan ajal akan datang menjemput, yang kita lakukan hanya bisa mempersiapkan diri. siapa yang tahu kapan saya akan dipanggil Allah? bisa saja esok, nanti, atau bahkan beberapa detik lagi. selama Allah masih memberikan kita kesempatan untuk hidup di dunia ini, mari kita gunakan untuk berlomba-lomba memperbaiki diri, menjalankan aturan islam secara total tanpa banyak alasan dan berusaha menunda-nunda. marilah jadi seperti generasi sahabat dahulu, yang ketika Rasulullah datangkan wahyu dari Allah tentang suatu perkara syariat, maka mereka langsung mengikutinya tanpa pikir panjang. mereka benar-benar sami’na wa atha’ na. sungguh berbeda jauh dengan kita sekarang.

semoga Allah masih mau memberikan kita perpanjangan waktu untuk memperbaiki diri dan menyiapkan bekal untuk kehidupan abadi di akhirat kelak. semoga jika ajal menjemput, kita tidak mati dalam kondisi mendurhakai Allah dan bermaksiat kepadaNya. aamiin, ya Rabbal ‘alamin…

Benarkah Indonesia Sudah Merdeka???

dalam pembahasan mengenai perjuangan para pahlawan Indonesia guna meraih kemerdekaan yang dituliskan pada buku2 sejarah, kita pasti sering membaca kalimat-kalimat seperti ini,

“setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri, mendeklarasikan kemerdekaannya dan lepas dari penjajahan.”

namun faktanya, ternyata ‘merdeka’-nya suatu bangsa barulah merdeka secara fisik. negara-negara imperialis tidak pernah mau melepaskan negara kolonialnya. karena mereka adalah aset sumber daya yang men-support negara induknya. mereka hanya mengubah strategi penjajahannya: penjajahan langsung menjadi penjajahan tidak langsung melalui antek-anteknya. penjajahan militer menjadi penjajahan ekonomi dan politik. maka dari itu, kemerdekaan negara-negara berdasarkan sistem kebangsaan hakikatnya adalah semu, bukan kemerdekaan yang hakiki. (H. Budi Mulyana,S.IP, M.Si — LKI DPP HTI, dosen ilmu hubungan internasional UNIKOM Bandung, mahasiswa program doktor Hubungan Internasional UNPAD)

kemerdekaan semu ini justru lebih menghancurkan tatananan masyarakat dan negara. mengapa? jika penjajahan terjadi secara fisik maka rakyat tak akan tinggal diam. mereka akan mengerahkan seluruh tenaga, daya dan upaya, harta dan segala yang dimilikinya untuk mengusir para penjajah. namun penjajahan ekonomi dan politik yang dibungkus dengan sampul ‘negara merdeka’ malah membuat rakyat merasa tak ada yang perlu diperjuangkan lagi karena mereka sudah ‘merdeka’. mereka menyerahkan semua tugas pengaturan negara pada tokoh-tokoh yang mereka pilih melalui PEMILU, tokoh2 yang ternyata merupakan perpanjangan tangan dari penjajah. kekuasaan yang mereka dapatkan sebagai imbalan menjadi ‘wakil rakyat’ digunakan dengan sebaik-baiknya, bukan untuk mensejahterakan rakyat, tapi untuk mensejahterakan Sang Penguasa sesungguhnya. dan inilah yang terjadi pada negeri kaya raya bernama INDONESIA, negeri merdeka yang tak pernah sungguh-sungguh merdeka.

presiden baru, harapan baru?

siapa bilang kebijakan makro ekononomi bisa dikendalikan oleh seorang presiden?

lihat saja buktinya, kekuasaan moneter ada di tangan BI, kekuasaan keuangan ada di tangan otoritas jasa keuangan (OJK), otoritas jaminan sosial ada di tangan BPJS, otoritas fiskal dalam bentuk pajak nantinya akan dipegang oleh badan penerimaan negara yg akan segera terbentuk.

semua ini terjadi lantaran ada ‘kekuatan besar’ di balik seluruh kebijakan ekonomi di negeri kita tercinta ini, kekuatan yg mampu mengatur segalanya demi menguntungkan diri mereka sendiri, bahkan bisa mengatur presiden dan anggota parlemen sekehendak hati. siapakah pemilik kekuatan besar tersebut? mereka lah para pemilik modal.

welcome to reality, dear muslim brothers and sisters!

entah sadar atau tidak kehidupan kita sudah sejak lama dipermainkan oleh para pemilik modal ini.

kekayaan alam pun tak luput dari santapan mereka. kita tak sekalipun pernah seutuhnya menjadi pemilik seluruh potensi alam negeri ini. 80% SDA kita dikuasai dan di kelola pihak asing, dan yg tersisa untuk rakyat ini tak lebih dari sejumput debu belaka.

siapapun presidennya, mau dia sederhana atau tegas, mau dari kalangan militer atau non militer, dia tak akan punya gigi untuk menghentikan pengaruh ‘kekuatan besar’ ini, karena keberadaan dan keberlangsungan hidup mereka pun dijamin oleh para pemilik modal.

jadi apa yang tersisa untuk rakyat?
penderitaan..hanya penderitaan…

itu bukti nyata sistem ekonomi kapitalis yg saat ini digunakan indonesia tak seujung kuku pun memberikan kesejahteraan untuk rakyat. kesejahteraan untuk penguasa modal dan petinggi negara sih iya, kesejahteraan rakyat? jangan mimpi.

islam sudah memiliki sistem perekonomian sendiri dan dengan sistem ini terbukti rakyat sejahtera dan kesejahteraan itu benar-benar merata. sumber daya alam dikelola langsung oleh negara utk menjamin kehidupan seluruh rakyat! dan sistem ekonomi seperti ini hanya akan koheren dengan sistem pemerintahan yg islami pula. pemerintahan islami hanya ada dalam khilafah islamiyah, yg telah terbukti 1300 tahun membawa kejayaan bagi ummat muslim.

masih mau meragukan bukti-bukti yg bertebaran di depan mata ini?

kalau saya mah sudah males mikir. karena mau jungkir balik pun demokrasi dan sistem ekonomi kapitalis ini tidak akan pernah bisa diobati. hanya bisa dihapuskan dan diganti oleh khilafah islamiyah, sistem yg telah diwariskan Rasulullah, sistem yg menjunjung hukum dan aturan Allah di atas segala-galanya.

#UdahKhilafahAja

If i have to choose an example to explain about DEMOCRACY, then i’ll consider it as an END STAGE of MALIGNANCY (KANKER GANAS STADIUM AKHIR). Can you treat that kind of disease from ‘its inside body’ ?! Could you explain your answer with an evidence? Or perhaps you’ve got a journal from clinical control study that has proved your opinion? Nah…that’s sounds impossible… -..-

#MedicalStudentCriticalThinkingEdition

jika saya harus mengambil sebuah analogi untuk menggambarkan DEMOKRASI, maka saya umpamakan ia sebagai sebuah PENYAKIT KANKER GANAS STADIUM AKHIR. bisakah sebuah penyakit seperti itu diobati ‘dari dalam’ badan kanker nya ?! kalau bisa, mohon dijelaskan mungkin bukti-buktinya? atau mungkin ada yang pernah mendapatkan jurnal dari sebuah penelitian klinis terkontrol yang dapat membuktikan pendapat anda? nah…kayaknya impossible deh ada pengobatan macam itu… -..-

#EdisiMahasiswaKedokteranBerpikirKritis -..-

Nampaknya ada usaha yang sangat serius dari ‘pihak-pihak tertentu’ melalui pemberitaan media yang tidak berimbang untuk membuat buruk citra kedua hal berikut:

  1. khilafah islam (sistem pemerintahan islam) –> dengan isu munculnya gerakan separatis semacam ISIS

  2. Bendera Rasulullah  Al Liwa dan Ar Roya –> sengaja dibuat agar kesannya seperti bendera ‘teroris’

 

10457741_10202318721840398_9002386218135438264_o

 

 

 

Pelarangan Jilbab, peci dan Bank Syariah di Bali –> Apakah ini yang namanya TOLERANSI ?!

Allah, Tuhan ummat muslim, telah berfirman “lakum diinukum waliyadiin” yang artinya “Untukmulah agamamu, dan untukku lah agamaku”

Pelarangan berhijab di BALI menjadi bukti bahwa ‘toleransi’ beragama yg selama ini di gembar gembor kan tidak berlaku sama sekali untuk islam minoritas. Hak seorang wanita muslim untuk menjalankan kewajiban agamanya direnggut oleh orang2 yang pro demokrasi, orang2 yang ‘katanya’ mengusung kebebasan.

jika hal seperti ini terjadi pada umat muslim, kemana lari nya aktivis HAM yang selama ini selalu koar2 mengatakan islam agama yg tidak toleran tanpa pernah mau tahu ajaran islam yang sesungguhnya? Dimana diletakkan kebebasan untuk umat islam?! Giliran ada sekolompok penganut agama lain yg memaksa mati-matian ingin mendirikan rumah ibadah di pemukiman muslim dengan cara memalsukan tanda-tangan perizinan warga, malah dibela sampai kabar beritanya menyebar ke luar negeri. Sebenarnya yg tidak punya dan tidak paham toleransi itu siapa? kita lihat apakah ada media TV yang berani memberitakan hal ini secara ‘proporsional’ dan tidak semakin memojokkan ummat muslim?! setahu saya sampai detik ini BELUM ADA media TV yang BERANI menyoroti hal ini! yang disoroti masih itu-itu saja –> isu ISIS dan KHILAFAH. (tanya kenapa??!!)

lagi-lagi Allah memberikan tamparan untuk ummat muslim (terutama yg hidup di indonesia) dengan kejadian ini. Ketika kita hidup dalam lingkungan mayoritas islam dan tidak ada tekanan apa-apa dari pihak mana pun terhadap hak-hak kita dalam menjalankan hidup, mungkin itu akan membuat kita malah lalai menjalankan aturan2 agama. Tak mau peduli yang namanya syariat islam, tak mau peduli akan usaha orang2 yang getol menyuarakan penerapan syariat islam dalam bingkai khilafah islamiyah. Malah senang-senang saja menjadi pendukung sistem kufur demokrasi. Tapi lihatlah bagaimana kondisi saudara2 kita yang hidup sebagai minoritas di daerah dengen penduduk yang kebanyakan beragama lain. Atau yang hidup dalam tekanan dari bangsa lain. Bandingkan keimanan dan ketakwaan mereka dengan kita. Bandingkan kekuatan niat dan keistiqomahan mereka dalam menjalankan syariat islam dibanding kita. Tidak kah seharusnya kita malu?!

Semua episode buruk yg terjadi pada ummat muslim ini terjadi bukan tanpa maksud apa-apa, tapi Allah sedang benar2 menegur kita, marah pada kita. Bagaimana bisa seseorang yg mengatakan diri muslim dan mengatakan agamanya adalah agama yg sempurna lantas tidak mau melaksanakan aturan agamanya? Bagaimana bisa seseorang yg mengatakan “AlQur’an adalah penuntunku” lantas tidak mau melaksanakan apa yang tertuang dalam Al Qur’an? Tidak mau pula mengusahakan agar seluruh umat muslim di dunia ini (bukan hanya dirinya) bisa menjalani hidup yang sama damainya dengan dirinya, bisa merasakan ketenangan dan keleluasaan dalam menjalankan ajaran agama seperti dirinya? Atau, apa perlu Allah membalikkan kondisi kita yang saat ini masih bisa berleha-leha, diubah seketika menjadi berada di sisi tertindas untuk membuat kita menyadari kesalahan kita? Sungguh mudah bagi Allah untuk melakukan itu jika Ia berkehendak.

Maka dari itu, sadarlah. Bukalah mata dan hati kalian bahwa ummat ini membutuhkan khilafah. Membutuhkan sebuah sistem kenegaraan, sistem pemerintahan yang dijalankan dengan ajaran islam agar setiap muslim mampu menjadi islam yg kaffah. Tak akan pernah surut langkah kami untuk menyuarakan penegakan syariah dan khilafah sampai seluruh umat sadar betul bahwa tidak ada lagi yang bisa menolong mereka selain Allah, tidak ada lagi yang bisa merubah kondisi mereka selain menerapakan hukum2 Allah. Berharap pada demokrasi? Ah sungguh itu hanya bualan pemimpi. Yang peka melihat fakta dan mengambil ibroh dari segala kejadian in syaa Allah tahu betul bahwa sistem ini ya memang sudah rusak. Tidak bisa diperbaiki lagi. Yang berusaha untuk memperbaiki mobil yang rusak nya parah malah akan ikut meledak di dalam mobil itu.

Pengemban dakwah syariah dan khilafah pun saat ini sedang diuji dengan isu global munculnya gerakan separatis berskala besar yang malah merusak keagungan khilafah dan makin mencoreng nama islam. Makin menjadi-jadi lah islamophobia dan makin menjadi-jadi pula cercaan terhadap umat muslim serta agama kita yang indah dan sempurna ini. Marilah satukan barisan bersama orang-orang yg istiqomah memperjuangkan agama Allah. Demi kemenangan islam. Demi kesatuan ummat ini. Demi kehidupan umat yang lebih baik di dunia dan akhirat

 

Jawaban Bagi yang Meragukan Rasulullah Masuk Surga

N.B. semoga orang2 yang membaca artikel ini adalah orang yang benar2 ingin mencari ilmu, mencari tahu kebenaran karena sangat meyakini Beliau (Rasulullah) adalah manusia paling mulia yang semua dosa-dosanya telah dimaafkan oleh Allah, dan SUDAH DIJAMIN MASUK SURGA. jadi jika ada yang membaca artikel ini untuk mencari-cari kesalahan dalam penulisannya, dan kemudian melontarkan komentar yang ingin menyerang isi nya demi membenarkan pendapat pribadi bahwa “Rasulullah tidak dijamin masuk surga”, maaf, komentar anda tak akan saya terima dan akan langsung saya anggap sebagai spam!

Bukan masalah setinggi apa orang itu sudah mengkaji ilmu agama. Sungguh bukan itu yg menjadi masalah. Tapi kemuliaan seorang Rasul yg selama ini kita hormati dan kita cintai bisa dgn seketika hancur dgn satu kalimat yg dikeluarkan secara tidak hati2.

Jika kita tanyakan pada hati nurani kita yg notabene tidak sekolah agama sampai bergelar profesor ini “apakah kau yakin bahwa Rasulullah, manusia yg dianggap paling mulia oleh Allah, manusia yg dipilih Allah utk mengemban risalah agama ini untuk disebarkan kepada ummat manusia, manusia paling indah akhlaq nya, sudah dijamin Allah masuk surga?” seharusnya hati nurani yg paling lembut dan bersih ini mengatakan “ya. Saya YAKIN”

Maka tak akan lagi ada perdebatan diantara muslimin jika ada pernyataan yg aneh keluar dr lisan seseorang yg meragukan jaminan surga bagi Rasulullah, tak perlu lagi ada yg membela dan membantu orang itu menjelaskan dari mana dia mengambil sumber utk mnyokong pendapatnya. Sungguh. Siapa yg akan memberikan kita syafaat di akhirat kelak jika bukan Rasulullah?

Sungguh. Seharusnya kita malu pada Rasulullah. seharusnya rasulullah lah yg kita bela, buka siapa2 selain beliau. Beliau begitu menyayangi kita hingga di akhir hayatnya, ketika nyawa hampir dicabut dari jasadnya, yg dia sebut adalah “ummatku…unmatku…ummatku…”

Begitu besar sayangnya beliau pada kita. Mugkin jika ia masih hidup dan menyaksikan kita saat ini, dia akan menangis melihat kondisi ummat yg begitu ia sayangi ini malah memperdebatkan dan meragukan jaminan surga untuk beliau. Sungguh seharusnya kita malu…

Sholawat serta salam smoga slalu tercurah kepadamu ya nabiyullah. Maafkan kami, dan jangan masukkan kami ke dalam golongan org2 yg tak kau beri syafa’at kelak di padang mahsyar.

Tertanda, saudarimu, seorang manusia yg penuh khilaf dan salah, yg hanya ingin berusaha mengembalikan keyakinan dan kecintaan kita semua pada Rasulullah Muhammad SAW.

Berikut saya sertakan tulisan oleh ust. Bachtiar Natsir berjudul “Jawaban bagi yang meragukan Rasulullah masuk surga”

sumber: http://aqlislamiccenter.com/2014/07/18/jawaban-bagi-yang-meragukan-rasulullah-masuk-surga/

Syubhat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dapat dipastikan masuk Surga bukanlah hal baru, keraguan seperti ini banyak disebarkan oleh orang-orang Nasrani dan tokoh sekuler dari kalangan muslim.

Untuk menjawabnya cukup sederhana; “Bukankah telah disediakan telaga Al-Kautsar atau telaga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disediakan bagi calon penghuni Surga?”.

Hadits yang sering mereka jadikan sebagai pintu masuk untuk merasukkan doktrin keraguan (tasykik) diantaranya adalah hadits riwayat Imam al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

»لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا«
“Salah seorang dari kalian tidak akan dapat diselamatkan oleh amalnya,” maka para sahabat bertanya, “Tidak juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga saya, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Maka beramallah kalian sesuai sunnah dan berlakulah dengan imbang, berangkatlah di pagi hari dan berangkatlah di sore hari, dan (lakukanlah) sedikit waktu (untuk shalat) di malam hari, niat dan niat maka kalian akan sampai.”
Juga hadits Dalam riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda :
»سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Beramalah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya.” Para sahabat bertanya, “Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Dari hadits di atas, para penafsir dengan hawa nafsunya berdalih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memiliki jaminan masuk surga, baik untuk dirinya maupun umatnya.
Untuk membantah pemahaman salah tersebut, maka diperlukan pemahaman terhadap hadits dengan benar.
Dua hadits di atas mengandung hal yang mendasar dan menjadi kaidah yang penting. Hal mendasar dan sifatnya asas adalah bahwa amal perbuatan manusia tidak dapat menjaminnya untuk selamat dari api Neraka dan tidak pula dapat menjaminnya untuk masuk surga, karena masuk surga dan selamat dari api neraka disebabkan oleh ampunan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala; karena seorang muslim meyakini dan mengimani bahwa segala sesuatu berada di Tangan Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui tempat kembalinya manusia.
Tidak seperti orang nasrani yang tersesat dengan mengimani bahwa yesus sang penebus, yang diantara ajarannya kepada pemeluknya : akuilah dosa-dosa kalian kepada para pendeta niscaya kalian akan diampuni, walaupun pendeta tersebut bukan orang yang lurus. Berbeda dengan seorang Muslim yang berkeyakinan bahwa seseorang tidak dapat menjamin dirinya masuk surga, bahkan dengan amal shalihnya sekalipun, karena seseorang masuk surga disebabkan rahmat dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan hal diatas, di antaranya adalah :
)فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ( [آل عمران : 195]
Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
Ayat diatas menegaskan bahwa Allah menghapuskan kesalahan hamba-Nya baru kemudian memasukkannya ke dalam Surga.
)تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ( [الصف : 11-12]
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
Allah hanya memasukkan hambanya yang sudah mendapatkan ampunan dosa-dosa dari-Nya.
Sekali lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghubungkan antara masuknya seseoang ke Surga dan selamatnya dari Neraka dengan maghfirah dan rahmat-Nya untuk menunjukkan bahwa hal tersebut tidak akan didapat tanpa adanya maghfirah dan rahmat-Nya.
Para salaf berkata, “Di akhirat kelak hanya ada dua kemungkinan; ampunan Allah atau Neraka, sedangkan di dunia juga cuma ada 2 hal saja; penjagaan Allah atau kebinasaan.”
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata kepada para sahabatnya ketika menjelang wafat, “Alaikumus salam,  bisa jadi neraka atau ampunan Allah.”
Adapun firman Allah :
)وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ( [الزخرف : 72]
Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.
)كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ( [الحاقة : 24]
(kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa masuknya seseorang ke Surga karena rahmat Allah, dan penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.
Ibnu ‘Uyainah berkata, “Mereka berpendapat bahwa selamatnya seseorang dari api neraka itu disebabkan karena adanya ampunan dari Allah, dan masuknya seseorang ke surga disebabkan karena anugerah dari Allah serta penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.”
Coba perhatikan konotasi huruf al-Ba’ dalam firman Allah :
(بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)
(بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ)
Adalah ba’ sababiyyah (ba’ yang mengandung arti sebab), jadi maknanya adalah Allah menjadikan amal seseorang sebagai sebab masuknya seseorang ke dalam surga.
Sedang ba’ dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
)لَا يَدْخُلُ أَحَدُكُمْ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ) [رواه أحمد]
Adalah ba’ muqabalah dan mu’awadhah (mengandung arti timbal balik) jadi makna dari hadits adalah Salah seorang dari kalian tidak akan masuk surga dengan amal perbuatan yang dia kerjakan.
Hadits ini menjawab keraguan orang yang mengira bahwa surga itu diperoleh karena hasil dari amal perbuatannya, dan menghapus keraguan bahwa orang yang mengerjakan suatu perbuatan akan secara otomatis berhak mendapatkan surga sebagaimana orang yang sudah membayar dengan harga tertentu akan mendapatkan barang dari harga yang sudah dibayar.
Hadits tersebut juga menjelaskan bahwa sebab seseorang masuk surga adalah karena anugerah dan rahmat-Nya. jadi masuknya seseorang ke dalam surga disandarkan kepada anugerah, rahmat, dan maghfirah-Nya, karena Dia-lah yang memberikan anugerah berupa sebab dan amalan yang menyebabkan seseorang beramal, jadi masuknya seseorang ke dalam surga tidak hanya disebabkan hanya karena amalnya sendiri.
»إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Hadits di atas menunjukkan bahwa seseorang betapapun tinggi derajat dan keutamaannya tidak akan selamat hanya karena amalnya, bahkan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seandainya Allah tidak memberikan anugerah berupa diampunkannya dosa-dosa; baik yang telah lalu maupun yang akan datang, maka beliau tidak bisa selamat dengan amalnya.
والسلام علي من اتبع الهدي

Diantara kelemahan Prof. Quraish Shihab yang sangat mendasar dalam menyampaikan hadits adalah menyampaikannya hanya dengan maknanya saja, dan bisa jadi dua hadits yang berbeda digabungkannya menjadi satu dan bercampur baur dengan ucapannya, dan tanpa menyebutkan referensi kitab-kitab hadits, tidak pula sahabat yang meriwayatkan.

Dan kami mengira hadits yang dimaksudkan di atas adalah dua hadits yang berbeda, yaitu:

Pertama: Hadits Ummul ‘Alaa Al-Anshoriyah radhiyallahu’anha, beliau berkata ketika meninggalnya sahabat yang mulia Abus Saaib ‘Utsman bin Maz’un radhiyallahu’anhu:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي – وَأَنَا رَسُولُ اللهِ – مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Rahmat Allah atasmu wahai Abus Saaib (‘Utsman bin Mazh’un). Aku bersaksi bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Apa yang telah membuat engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku mengatakan, ”Demi bapakmu (ini bukan untuk bersumpah, Pen), lalu siapa yang dimuliakan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Adapun Abus Saaib maka telah datang kematiannya, demi Allah sungguh aku mengharapkan kebaikan baginya. Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.” Kemudian Ummul ‘Alaa’ mengatakan, “Maka demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi memastikan seseorang (telah dimuliakan oleh Allah).” [HR Bukhari]

Perhatian: Tentang ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas,

وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي

“Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.”

Maka ucapan beliau tersebut sebelum turun firman Allah ta’ala yang mengabarkan bahwa dosa-dosa beliau semuanya telah diampuni. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang.” [Al-Fath:1-2]

Apakah mungkin setelah dosa seseorang diampuni semuanya oleh Allah ta’ala lalu kemudian ia belum dijamin masuk surga?!

Dan terdapat beberapa hadits yang semakna dengan hadits Ummul ‘Alaa’ Al-Anshoriyah di atas, diantaranya adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih beliau pada bab, Tidak Boleh Mengatakan Fulan Syahid:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِه

“Abu Hurairah berkata, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: Allah yang lebih mengetahui siapa yang berjihad di jalan-Nya, Allah yang lebih tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.” [HR. Al-Bukhari]

Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak boleh memastikan seseorang itu mati syahid walau ia meninggal di medan jihad, karena kita tidak mengetahui keadaannya yang sesungguhnya di sisi Allah. Maka demikian pula, lebih tidak boleh lagi memastikan seseorang masuk surga walau kita melihat amalannya baik, karena belum tentu diterima di sisi Allah, sebab kita tidak tahu niat orang tersebut ketika beramal.

Namun larangan memastikan seseorang mati syahid dan masuk surga ini hanya berlaku bagi mereka yang belum dipastikan syahid atau masuk surga, adapun yang sudah dipastikan dan sudah dijamin masuk surga maka wajib bagi kita untuk meyakini bahwa ia pasti dan terjamin masuk surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَيَشْهَدُونَ بِالْجَنَّةِ لِمَنْ شَهِدَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ كَالْعَشَرَةِ وَكَثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الصَّحَابَةِ

“Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan (memastikan) akan masuk surga, orang orang yang dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam akan masuk surga, seperti 10 sahabat, Tsabit bin Qois bin Syammas, dan selain mereka dari kalangan para sahabat.” [Matan Al-Aqidah Al-Washitiyah]

Hal itu karena wajib membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرَةٌ فِى الْجَنَّةِ النَّبِىُّ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ ». وَلَوْ شِئْتَ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ. قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ.

“Sepuluh orang di surga, Nabi (Muhammad) di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair bin Al-‘Awwam di surga, Sa’ad bin Malik di surga, Abdur Rahman bin ‘Auf di surga.” (Sa’id bin Zaid) berkata, “Kalau engkau mau aku akan sebutkan yang kesepuluh.” Mereka berkata, “Siapakah dia?” Maka beliau diam. Mereka berkata lagi, “Siapakah dia?” Beliau berkata, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan ini adalah lafaz Abu Daud, Lihat Ash-Shahihah: 1435]

Dalam lafaz At-Tirmidzi:

وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ

“… Abu Ubaidah (di surga) dan Sa’ad bin Abi Waqqash di surga.” [HR. At-Tirmidzi dari Sa’id bin Zaidradhiyallahu’anhu, Shahih At-Tirmidzi: 2947]

Perhatian: Dalam lafaz Abu Daud di atas sangat jelas disebutkan, “Nabi (Muhammad) di surga.” Semoga kita termasuk orang-orang yang membenarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dan tidak mendustakannya.

Adapun tentang sahabat yang mulia Tsabin bin Qois bin Syammas, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda tentang beliau,

بَلْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Bahkan ia termasuk penghuni surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan inimlafaz Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Jadi, pendalilan Prof. Quraish Shihab dengan hadits yang disebutkannya untuk menafikan jaminan surga bagi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah tidak tepat, karena terdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dan sahabat telah dijamin masuk surga.

Dan telah dimaklumi bahwa untuk mengambil satu kesimpulan dari dalil hendaklah mengumpulkan terlebih dahulu seluruh dalil yang terkait, bukan mengambil sebagian dalil dan membuang yang lainnya. Oleh karena itu dalam ilmu tafsir juga dikenal adanya nash-nash yang umum dan khusus, yang muthlaq danmuqoyyad, yang naasikh dan mansukh.

Menerapkan Syariat Islam dalam Sistem Demokrasi….?????

Mumpung lagi tadarusan ni, coba buka surat Al Baqarah ayat 183….

Di sana tertera perintah Allah (kewajiban) untuk berpuasa kan?

Nah….

Sekarang coba naik 5 ayat ke atas….

Di sana tertera “Hai orang-orang yang beriman, DIWAJIBKAN atas kamu QISHAASH……” 

Menurut kalian apakah qishaash bisa dilaksanakan dalam sistem demokrasi???

Hanya dalam sistem pemerintahan islam saja lah qishaash itu bisa dilaksanakan. Dalam sebuah daulah islam, yang dipimpin oleh seorang khalifah. 

Inget lho, hukum qishaash itu WAJIB menurut Allah, jadi kita yang manusia ini tak punya hak untuk merubah2 hukum tersebut dengan alasan apapun, dengan pertimbangan apapun, dalam kondisi apapun. 

Dan karena sekarang kita belum bisa melaksanakannya (qishaash) karena belum ada daulah islam yang akan menerapkannya, maka WAJIB pula hukumnya untuk kita menyeru pada penegakan khilafah kepada seluruh masyarakat. 

Caranya? Dengan dakwah, itu saja, Rasulullah juga dulu hanya menempuh jalur dakwah saja. 

Apakah kita perlu masuk ke dalam sistem demokrasi agar langkahnya jadi terasa lebih realistis daripada sekedar ‘omong doang’? hmmm….apakah pernah ada satu saja partai, calon legislatif atau calon presiden yang mengatakan dengan lantang “Akan menerapkan syariat islam secara total jika saya terpilih nanti” ??? jawabannya pasti “tidak ada”, iya kan? Kenapa? Karena jika kita menyuarakan “penerapan syariat islam” dalam bingkai demokrasi, whoooaa, kita pasti akan dirongrong oleh para suksesor demokrasi, para suksesor sistem sekuler ini. mereka tak akan pernah membiarkan syariat islam diterapkan di negara ini karena jika syariat islam diterapkan hilang pula lah wahana bermain mereka, tak ada lagi jalur untuk bisa melakukan korupsi, tak ada lagi jalur untuk suap menyuap, tak ada lagi jalan bagi para pemilik modal dan pengusaha untuk men’setting’ kebijakan pemerintah agar sesuai dengan kemauan mereka. 

Jadi yang bisa kita lakukan apa? Ya itu tadi. dakwah, dakwah, dakwah, ngomong, ngomong dan ngomoooong terus. 

Sampai kapan? Sampai sebagian besar masyarakat paham pentingnya penerapan syariat islam secara total di bumi nya Allah ini, agar kelak masyarakat inilah yang mendesak pemerintahannya digantikan dengan sistem pemerintahan islam, sampai aparat kemanan mau memberikan perlindungan jika di negara ini (contohnya indonesia) akan ditegakkan kekhilafahan dan diruntuhkan demokrasi, sampai sebagian besar petinggi negara mau mengubah negara ini dari negara sekuler menjadi daulah islam. 

Indahnya jalan dakwah, indahnya jalan damai yang diajarkan Rasulullah. Anarkis itu bukan solusi ya untuk menegakkan khilafah. Jadi yang bilang khilafah sudah tegak tapi pakai jalur anarkis dan tak punya perlindungan dari negara manapun, itu bukan kekhilafahan yang sah. 

wallahu a’lamubissawab

semoga bermanfaat. 

 

“Politik” Proklamasi Tegaknya al-Khilafah oleh ISIS

Berikut adalah pernyataan amir hizbut tahrir, Atha’ bin Khalil Abu Ar-Rasytah mengenai pendeklarasian daulah islam oleh ISIS. Semoga kita bisa lebih berhati-hati dalam menelaah pemberitaan yg hanya disebarkan melalui sosmed dan youtube. Semoga bisyarah Rasulullah akan tegaknya khilafah islam yg dirindukan ummat islam di seluruh penjuru dunia akan segera terwujud… 

“Politik” Proklamasi Tegaknya al-Khilafah oleh ISIS

Silsilah Jawaban asy-Syaikh al-‘Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir atas Pertanyaan di Akun Facebook Beliau

“Politik” Proklamasi Tegaknya al-Khilafah oleh ISIS

Kepada semua saudara yang mengirimkan permintaan penjelasan tentang proklamasi tegaknya al-Khilafah oleh ISIS… dan mohon maaf tidak dituliskan nama-nama Anda karena sangat banyak…

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.

Kami telah kirimkan sebelumnya jawaban pada waktu itu dan saya ingin ulangi kepada Anda:

Saudara-saudara yang dimuliakan,

1. Sesungguhnya tanzhim (organisasi) apapun yang ingin memproklamirkan al-Khilafah di suatu tempat, yang wajib baginya adalah mengikuti thariqah Rasulullah Saw dalam hal itu. Diantaranya adalah, organisasi itu memiliki kekuasaan yang menonjol di tempat tersebut, yang menjaga keamanannya di dalam dan di luar negeri. Harus ada pilar-pilar negara di daerah yang di situ diproklamirkan al-Khilafah… Itulah yang dahulu ada pada Rasulullah Saw ketika beliau mendirikan Daulah Islamiyah di al-Madinah al-Munawarah: 
Kekuasaan di sana adalah milik Rasul Saw, keamanan dalam negeri dan luar negerinya dijamin dengan keamanan (kekuasaan) Islam, dan negara itu memiliki pilar-pilar negara di wilayah tersebut.

2. Sementara itu, organisasi yang memproklamirkan al-Khilafah tersebut, tidak memiliki kekuasaan atas Suriah dan tidak pula atas Irak. Organisasi itu juga tidak merealisasi keamanan dan rasa aman di dalam negeri dan tidak pula di luar negeri, hingga orang yang dibaiat sebagai khalifah saja tidak bisa muncul di sana secara terbuka, akan tetapi keadaannya tetap tersembunyi seperti keadaannya sebelum proklamasi daulah! Ini menyalahi apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw, sebelum daulah tegak, boleh saja bersembunyi di goa Tsur. Akan tetapi setelah berdiri daulah, beliau Saw memelihara urusan-urusan masyarakat, memimpin pasukan, memutuskan perkara di antara orang-orang yang bersengketa, mengirim para utusan, dan menerima para utusan secara terbuka tanpa sembunyi. Jadi, sebelum berdiri daulah berbeda dengan sesudahnya… Begitulah, proklamasi organisasi itu atas al-Khilafah adalah ucapan sia-sia (laghwun) tanpa isi. Itu sama saja dengan yang sebelumnya dalam hal proklamasi al-Khilafah, tanpa realita riil di lapangan dan tidak memiliki pilar-pilar. Semua itu hanya untuk memuaskan apa yang ada di dalam diri mereka. Yang ini memproklamirkan diri sebagai khalifah. Yang itu memproklamirkan diri sebagai al-Mahdi… dan sebagainya, tanpa pilar-pilar, tanpa kekuasaan dan tanpa menguasai keamanan dan rasan aman…!

3. Sesungguhnya al-Khilafah adalah negara yang punya bobot. Syariah telah menjelaskan thariqah pendiriannya dan tata cara menggali hukum-hukumnya tentang pemerintahan, politik, ekonomi, hubungan-hubungan internasional… Bukan hanya proklamasi nama tanpa isi, yang dilontarkan di situs-situs elektronik atau media massa-media massa audio visual. Proklamasi al-Khilafah merupakan kejadian agung yang mengguncang dunia. Akarnya menancap dalam di bumi. Kekuasaannya menjaga keamanan dalam dan luar negeri atas wilayah tersebut, menerapkan Islam di dalam negeri dan mengembannya ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad…

4. Proklamasi yang terjadi adalah ucapan yang sia-sia (laghwun), tidak memajukan dan tidak memundurkan dalam hal realita organisasi ISIS. ISIS adalah gerakan bersenjata, baik sebelum proklamasi dan setelah proklamasi. Posisinya seperti gerakan-gerakan bersenjata lainnya yang saling memerangi satu sama lain dan juga berperang melawan rezim, tanpa satu pun dari faksi-faksi itu bisa meluaskan kekuasaan atas Suria atau Irak atau keduanya. Seandainya ada faksi dari faksi-faksi itu, termasuk ISIS, yang mampu meluaskan kekuasaannya atas wilayah yang memiliki pilar-pilar negara dan memproklamasikan al-Khilafah serta menerapkan Islam, niscaya layak untuk dibahas guna dilihat jika al-Khilafah yang didirikannya sesuai hukum-hukum syariah, sehingga pada saat itu diikuti. Hal itu karena penegakan al-Khilafah merupakan kewajiban atas kaum Muslimin dan bukan fardhu atas Hizbut Tahrir saja. Maka siapa saja yang berhasil menegakkannya dengan benar, ia diikuti… Fakta yang terjadi saat ini tidak lah seperti itu. Semua faksi bersenjata (milisi), di antaranya ISIS, tidak memiliki pilar-pilar negara, tidak memiliki kekuasaan atas wilayah, dan tidak menguasai keamanan dan rasa aman. Karena itu, proklamasi ISIS atas tegaknya al-Khilafah adalah ucapan sia-sia (laghwun), tidak layak diperhatikan untuk dibahas pada realitanya sebab sudah tampak jelas…

5. Yang layak untuk diperhatikan dan dikaji adalah kekhawatiran adanya dampak negatif atas proklamasi ini, terkait ide al-Khilafah pada orang-orang yang berpikiran dangkal. Sehingga ide al-Khilafah pada diri mereka jatuh dari posisi sentralnya yang agung dan urgensitasnya bagi kaum Muslimin. Jatuh pada pemikiran yang rapuh, yang sekadar menjadi penyaluran perasaan-perasaan gelisah pada sebagian person. Maka salah seorang dari mereka berdiri di lapangan atau di medan atau di kampung, lalu memproklamirkan diri bahwa dia adalah khalifah, kemudian dia mengundurkan diri dan menyangka telah berbuat sebaik-baiknya! Maka al-Khilafah akan kehilangan urgensitas dan keagungannya pada hati orang-orang yang berpikiran dangkal dan menjadi tidak lebih dari nama bagus yang dijadikan sebutan bagi orang yang menginginkan tetapi tanpa isi… Inilah yang layak diperhatikan, khususnya saat di mana al-Khilafah telah makin dekat, lebih dekat dari sebelum-sebelumnya, dan kaum Muslimin telah menunggu pendiriannya dengan tidak sabar. Mereka melihat Hizbut Tahrir meniti jalan dalam urusannya, dengan berpegang teguh kepada thariqah Rasulullah Saw tentang tata cara pendirian al-Khilafah di al-Madinah al-Munawarah… Kemudian mereka melihat adanya interaksi dinamis dan ekspresif yang berpengaruh antara Hizbut Tahrir dengan umat yang mengasuhnya. Dari interaksi ini kaum Muslimin paham makna ukhuwah Islam. Mereka mencari kabar gembira akan kesuksesan Hizb dalam menegakkan al-Khilafah dan baiknya ri’ayah asy-syu’un dan menjadi benar-benar Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian… Pada saat yang demikian, justru datang proklamasi ini. Maka proklamasi itu mendatangkan potret kabur, jika bukan malah palsu, tentang realita al-Khilafah di benak orang-orang yang berpikiran dangkal di antara masyarakat…

6. Semua itu memunculkan tanda tanya, bahkan banyak tanda tanya… seputar timing proklamasi ini tanpa kekuasaan yang nyata dan stabil bagi pemilik proklamasi; yaitu kekuasaan yang menjaga keamanan negara ini di dalam dan luar negeri. Begitulah yang terjadi di Facebook atau media massa… Timing ini mencurigakan, khususnya bahwa gerakan-gerakan bersenjata yang tegak bukan atas asas takatuliyun fikriyun (kelompok yang bersifat intelektual), membuat infiltrasi menjadi mudah. Masuknya orang-orang jahat dari Timur dan Barat di barisannya adalah mudah. Sudah diketahui bersama bahwa Barat dan Timur terus melakukan tipu daya terhadap Islam dan al-Khilafah. Kepentingan mereka adalah memalsukan potretnya. Jika mereka tidak bisa memadamkan namanya, maka mereka sangat mementingkan agar al-Khilafah tidak lain hanyalah nama yang digunakan oleh orang yang menginginkan tanpa isi sama sekali. Sehingga kejadian agung yang menampar kaum kafir menjadi sekadar nama yang dijadikan ejekan oleh musuh-musuh itu siang malam…!

7. Atas semua yang diperbuat musuh-musuh jahat itu, kita tegaskan kepada musuh-musuh Islam dari Timur dan Barat, antek-antek dan para pengikutnya, serta orang-orang bodoh mereka, bahwa al-Khilafah yang telah memimpin dunia berabad-abad adalah sudah diketahui dan tidak majhul, kuat menghadapi distorsi bagaimanapun tipu daya dan konspirasi dilakukan.

﴿وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾

“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (TQS al-Anfal [8]: 30)

Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa telah mendatangkan untuk khilafah satu partai yang menghimpun orang-orang, yang perdagangan dan jual beli tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah. Mereka melingkupi khilafah dengan pikiran, pendengaran, dan penglihatannya. Mereka telah menyiapkan segala persiapan yang dibutuhkan untuk khilafah. Mereka istinbath hukum-hukum dan konstitusinya, serta struktur pemerintahan dan administrasinya. Mereka berjalan dalam upaya menegakkannya dengan meneladani sirah Rasulullah Saw tanpa menyimpang sehelai rambut pun… Mereka, dengan izin Allah, merupakan pagar yang menghalangi kekaburan tentang khilafah. Mereka layaknya batu cadas, yang dengan pertolongan Allah, dapat menghancurkan konspirasi-konspirasi kaum kafir, antek-antek, dan para pengikutnya. Mereka adalah para politisi yang memiliki kesadaran, yang dengan kekuatan Allah, dapat membalikkan segala tipu daya musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin menjadi kebinasaan bagi musuh-musuh itu.

﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ﴾

“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” (TQS Fathir [35]: 43)

Saudara-saudara yang dimuliakan,

Sesungguhnya perkara al-Khilafah al-Islamiyah amatlah agung dan posisinya sungguh sangat signifikan. Berdirinya tidak akan sekadar berita yang menjadi bahan ejekan media massa menyesatkan. Akan tetapi dengan izin Allah, berdirinya Khilafah akan menjadi ‘gempa’ menggema, yang membalikkan neraca internasional dan mengubah wajah dan arah sejarah… Sesungguhnya Khilafah akan kembali berupa Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian, sebagaimana yang disampaikan kabar gembiranya oleh Rasul saw. Maka orang-orang yang menegakkannya, mereka seperti orang-orang yang menegakkan Khilafah Rasyidah pertama, orang-orang yang bertakwa lagi bersih, mencintai umat dan umat mencintai mereka, mereka mendoakan umat dan umat pun mendoakan mereka. Umat merasakan kebahagiaan bertemu dengan mereka dan mereka merasakan kebahagiaan bertemu dengan umat; bukannya keberadaan mereka di tengah umat justru dibenci… Begitulah, mereka adalah ashhâbul khilâfah mendatang yang mengikuti manhaj kenabian. Allah akan memberikannya kepada orang yang memang layak untuknya. Dan sungguh kita memohon kepada Allah agar kita termasuk orang-orang yang layak itu dan termasuk orang-orang yang mengaturnya. Kita memohon kepada Allah SWT agar memberi karunia kepada kita dengan tegaknya al-Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.

﴿فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ﴾

“Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu…” (TQS alt-Tawbah [9]: 111)

Janganlah Anda berputus asa dari rahmat Allah, sehingga Allah tidak menyia-nyiakan untuk Anda wahai saudara-saudara yang dimuliakan, kelelahan yang telah Anda persembahkan. Allah tidak menolak permohonan yang Anda pinta dari-Nya, Allah tidak menggagalkan harapan yang Anda ajukan kepada-Nya. Maka tolonglah kita dengan meningkatkan kesungguhan dan pemberian. Perlihatkan kepada Allah dari diri Anda kebaikan, niscaya Allah menambah kebaikan untuk Anda. Jangan sampai ucapan main-main bisa memalingkan Anda dari perjuangan Anda yang penuh kesungguhan lagi jujur.

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.

3 Ramadhan 1435 H
1 Juli 2014 M

Selesai jabawan yang telah saya kirimkan sebelumnya.
Saya berharap jawaban ini mencukupi. Semoga Allah memberikan taufik kepada Anda dan menolong Anda. Dan semoga Allah memberi menunjuki kami dan Anda kepada perkara yang paling lurus.

Saudaramu
Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

04 Ramadhan 1435 H
02 Juli 2014 M
http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php/contents/entry_37540

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di http://hizbut-tahrir.or.id/gabung/

Insya Allah, syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda. (jika lebih dari 2 minggu, saudara/i bisa memberitahukan lewat pesan inbox)
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Facebook : https://www.facebook.com/Htiinfokom
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
===============================