END stories of a man named Chester Bennington

 

I hardly believe that i was a part of his fans when in junior high school…kebayang nggak sih anak cewek make jilbab kepala nya ngehentak2 pas dengerin lagunya linkin park? Oh yeah, That was me -..-”
Rasanya anak2 ABG yang lagi tinggi jiwa rebellious nya memang akan sangat mudah suka sama lirik2 lagu nya linkin park. Gimana nggak? Coba deh cermati lirik lagu breaking the habits atau NUMB, contohnya. Kalau boleh jujur, asli deh itu keren banget
Seiring dengan bertambah dewasanya usia kita, seharusnya semakin bertambah dewasa pula cara kita menyikapi suatu kondisi atau masalah. Dan jika kita harus menilai dari kacamata orang dewasa, bentuk ke ‘rebellious’an penyanyi dan penulis lagu nya sendiri terhadap kehidupan yang dia alami justru salah jalan dan akhirnya menemui jalan buntu yang malah mengantarkan dia pada pilihan ‘mati bunuh diri’.
Saya nggak bilang dia nggak dewasa. Bukan, sungguh. Umurnya saja sudah 41 tahun sekarang. Tapi bentuk kedewasaan yang dia tunjukkan berbeda 180 derajat dengan bentuk kedewasaan pemikiran yang ditawarkan islam. Kita orang islam kan? Maka kita harus melihat kasus ini juga dari sudut pandang islam, bukan dengan sudut pandang lain.
Kalau misalkan kita memaksa melihat dari sudut pandang lain, pasti pendapatnya akan kira-kira seperti ini, “Dia kan hidup dan besar di lingkungan yang keras. Dia pernah mengalami berbagai pelecehan semasa kecilnya. Wajarlah kalau hidupnya juga amburadul. Ngedrugs, alkoholik, seks bebas, ya wajar itu. Coba kalau kita di posisi dia, apa bisa bertahan? Apa bisa jadi sesukses dia dan menginspirasi banyak orang? Apa bisa selamat dari kecanduan? Nggak mungkin”
Tapi kalau dilihat dari sudut pandang islam, pendapatnya akan jadi begini kira-kira, “memang benar dia punya masa lalu yang kelam. Kita juga tidak bisa mengatakan masa lalu bagi anak2 remaja di palestina tidak kelam, bukan? Mereka sama-sama tumbuh dan dewasa dalam teror, bahkan di palestina mereka sudah bersiap untuk mati syahid. Tapi disitulah letak bedanya didikan barat dan didikan islam. Didikan barat akan mencari pemuasan dan jalan keluar dengan cara-cara yang jauh dari agama, sedangkan didikan islam akan mencari ketenangan batin dan jalan keluar dari sisi Rabb nya”
Ketika anak sudah mencapai masa akil baligh, maka menurut pandangan islam, akal nya telah sempurna. Sempurna dalam artian dengan akal itu dia sudah bisa dan wajib hukumnya mencari kebenaran tentang Tuhannya, mengenal siapa penciptanya, mencari jawaban dari 3 simpul besar pertanyaan “Dari mana kamu berasal? Untuk apa kamu diciptakan? Dan, Kemana kamu setelah mati nanti?”.
Jika chester benington, atau kita semua, dididik dengan didikan islam yang menitik beratkan akidah dan akhlak sejak masih kecil, in syaa Allah tidak akan susah bagi kita menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Pun, jika kita tidak mendapatkan didikan semacam itu sejak masih kecil, tetaplah wajib hukumnya bagi setiap manusia yang mencapai masa akil baligh untuk mencari tahu tentang siapa dirinya.
Sehingga ketika jawabannya sudah dipegang dengan erat, argumentasi yang menyertainya sudah kita dalami dengan sebaik-baiknya, dan dalil aqli dan naqli yang mendasarinya sudah benar-benar kita pahami, in syaa Allah tidak akan ada ceritanya seseorang tersesat ke jalan yang salah, melupakan peran Tuhan yang mengatur hidupnya, melampiaskan segala stres yang dialami dengan narkotika dan alkohol, bahkan sampai bunuh diri karena dia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa atas segala masalah yang menimpanya. Kecuali, mungkin, jika dia tergerus oleh pergaulan. Pergaulan yang justru mengantarkan dia untuk jauh dari aturan dan hukum-hukum Allah.
Jika seseorang percaya akan adanya Tuhan, bahkan jika kepercayaan itu hanya sedikit sekali tersisa dalam dirinya, rasanya tak mungkin jika dia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dia pasti akan bertawakkal pada Allah, karena tahu ujian seberat apapun itu semua datang dari Allah untuk menaikkan derajatnya diantara manusia lainnya.
Saya mungkin nggak terlahir dari lingkungan sekelam chester (alhamdulillah). Saya mungkin nggak berhak menghakimi dia. Sejujurnya saya kagum sekali dengan bakat yang dia miliki andaikan bakat itu digunakan di jalan Allah. Tapi sebagai mantan fans (hehe) saya cuma mau sedikit berusaha melihat ini dari sisi islam. Dengan membandingkan kisah hidup seseorang yang saya kenal, yang juga punya masa lalu hampir sekelam chester, tapi alhamdulillah dia memilih jalan taubat, berhijrah dan menemukan kebesaran Allah yang telah mengatur hidupnya.
Memang, kehebatan Allah itu tiada duanya. Ia tahu betul tabiat manusia seperti apa. Jelas, karena Allah yang menciptakan kita. Maka durhaka sekali rasanya jika kita mengingkari aturan2 yang Dia buat untuk kita, atau malah mencela aturan2 itu. Padahal kita ini makhluk yang lemah. Tanpa Allah, bisa saja hidup kita berakhir sama seperti chester atau para ahli maksiat lainnya.
Na’udzubillahimindzalik…
– Hasya Tasnim