Beginilah Cara Kapitalisme Merampok Negeri Ini dan Menjadikan Rakyat Sebagai Tumbal

walaupun singkat tapi tulisan ini cukup untuk membuka wawasan dan mata kita yg selama ini tertutup tentang bagaimana buruknya tipudaya kapitalis. indonesia hanyalah salah satu dari negara ‘lemah’ lainnya yg terperdaya oleh rencana busuk mereka. negara ini tak ubahnya sebuah boneka yg diatur gerak kaki dan tangannnya untuk melakukan apapun yg dapat memberi keuntungan sebanyak-banyaknya bagi para kapitalis. IMF, world bank, USAID, dan lembaga2 lainnya hanyalah serigala berbulu domba.

ah…mau sampai kapan kita ini di perdaya oleh mereka. padahal kita sudah jelas tahu bahwa kita (rakyat) lah yg akan dijadikan tumbal. apa manfaat yg bisa kita dapatkan dari berbagai macam nota kesepakatan para kapitalis dengan petinggi negara ini? tidak ada! pembangunan yg mampu mensejahterakan rakyat? ah itu hanya dongeng yg dihembus2kan untuk membesar-besarkan hati rakyat yg sudah putus asa dengan kehidupan. yg ada kita sudah diberikan tanggungan hutang. setiap satu anak bayi yg terlahir di indonesia sudah menanggung hutang sebesar 7 juta rupiah, dan jumlah ini bisa jadi akan terus bertambah! dari mana angka itu berasal? dari rerata jumlah keseluruhan hutang yg ditanggung oleh negeri kita tercinta ini jika dibagi dengan jumlah keseluruhan rakyat. ucapkanlah terimakasih untuk para penguasa yg telah memberikan kita hadiah berupa hutang yang tak tahu kapan akan bisa dilunasi itu. ucapkan pula terimakasih pada demokrasi dan sistem ekonomi yang berjalan beriringan dengannya (sistem ekonomi kapitalis) yg telah memperburuk nasib rakyat negeri yg kaya raya gemah ripah loh jinawi ini. terimakasih banyak!

semoga Allah memudahkan perjuangan orang2 yg istiqomah memperjuangkan sistem kenegaraan islam yang kita sebut dengan khilafah, yg senantiasa istiqomah mendakwahkan keindahan islam dan menjelaskan kebobrokan dan kebusukan sistem pemerintahan demokrasi pada seluruh rakyat agar mereka pun menginginkan demokrasi diganti dengan khilafah, yg berani mendatangi penguasa untuk memberikan nasehat dan teguran agar mereka kembali ke jalan Allah, yg meski dicerca, di fitnah, dikatakan sesat, di cap hanya bisa ‘omong doang’, yg dianggap mengancam NKRI padahal tak pernah melakukan kegiatan yg membahayakan macam apapun namun semangat juangnha tak pernah surut bahkan anggotanya semakin banyak tersebar di seluruh dunia, yg tetap menempuh jalan dakwah yg telah dicontohkan rasulullah dan tidak sedikitpun berminat untuk menghamba pada demokrasi apalagi ikut andil dalam sistem kufur ini. salam hangat untuk kalian semua. perjuangan kalian yg tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan apapun selain ridho Allah, semoga kelak dibalas dengan surga oleh Allah dan disana kalian bisa bertemu dengan sosok yg sama2 kita rindukan, kekasih kita Muhammad SAW.

saya mungkin hanya bisa menulis, tak punya banyak kontribusi untuk dakwah ini. tapi semoga orang2 yg membaca tulisan ini, rekan2 yg saya tag dlm tulisan sederhana ini, kelak akan menjadi bagian dari kalian, bagian yg memperjuangkan hukum Allah tegak di atas segala-galanya. aamiin, allahumma aamiin…

“Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di dunia, mesti segera membaca buku ini.” Itulah komentar majalah Rolling Stone tentang buku “The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism” karangan wartawati Kanada, Naomi Klein, yang diterbitkan Penguin Books, London , Inggris (2007).

“Tuan-tuan, kami ini berdaulat. Kami ingin melunasi utang kami, tapi maaf-maaf saja jika kami harus membuat kesepakatan lagi dengan IMF,” kata Presiden Argentina, Nestor Kirchner.

Sambil membopong diktator dan rezim sokongannya, kaum kapitalis mensponsori para ekonom didikan kampus-kampus neoliberal untuk menyiapkan karpet merah bagi kapitalisme dengan menyusun kebijakan ekonomi reformis propasar, satu eufemisme dari kebijakan prokapitalis fundamentalis. Afrika Selatan pasca-Nelson Mandela, Rusia di bawah Boris Yeltsin, dan Polandia pasca komunis adalah beberapa contoh.

Negara-negara yang semula khidmat mendengarkan rekomendasi para ekonom bimbingan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) itu kemudian sadar telah dibohongi para ekonom dan birokrat bimbingan Barat yang ternyata para calo swastanisasi (perampok) negara.

Para penyusun kebijakan reformasi ekonomi tersebut memang kerap berperan menjadi mulut perusahaan raksasa asing, bahkan konsep kebijakan swastanisasi Bolivia semasa Presiden Gonzalo Sanchez de Lozada disusun para analis keuangan perusahaan asing, seperti Salomon Brothers dan ExxonMobil.

Nelson Mandela adalah salah satu yang kecewa karena cita-cita memakmurkan warga kulit hitam, seperti dipesankan Piagam Perdamaian tak tercapai, justru karena orang dekatnya, Tabo Mbeki, menyusun kebijakan pro-kapitalis sehingga mayoritas rakyat Afsel terpinggirkan.

Polandia juga menyesal mematuhi nasihat ekonom Jeffrey Sachs, seorang Friedmanis dari Universitas Harvard, sehingga aset-aset strategis Polandia jatuh ke tangan asing, justru ketika Partai Solidaritas memerintah negeri itu.

Demikian pula Rusia, yang kehilangan aset-aset strategisnya setelah ekonom reformis Yegor Gaidar, seorang Friedmanis di bawah bimbingan IMF, mempromosikan kebijakan neoliberal. Vladimir Putin kemudian mengoreksi kesalahan itu, dan mengakhiri hubungan mesra Rusia dengan IMF.

Buku tersebut juga menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil desain kaum kapitalis karena mereka ingin menguasai aset-aset strategis di kawasan itu, mencaplok aset-aset perusahaan nasional Asia yang tumbuh meraksasa, dan hendak menggulingkan rezim-rezim yang berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia.

Menurut Naomi, di masa tuanya, Soeharto yang pro-Barat itu bosan diperah korporasi asing, sehingga ia “berkhianat” dengan membagikan aset nasional kepada kroninya yang berakibat korporasi asing itu berang, lalu merancang pembalasan dengan membesarkan skala krisis moneter Asia

Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF datang menawarkan obat dengan syarat liberalisasi pasar, sebuah formula klasik ala Friedman. Semua Asia menerima resep itu, hanya Malaysia yang menampik formula rente itu.

Hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusahaan multinasional asing berhasil menguasai perekonomian (termasuk aset dan labanya yang menggiurkan) Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina, dan juga Malaysia lewat 186 merger dana kuisisi perusahaan-perusahaan besar di negara-negara ini.

“Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam limapuluh tahun terakhir,” kata ekonom Robert Wade.

Tak puas di situ, para kapitalis merancang serangan ke Irak setelah Presiden Saddam Hussein memberi keleluasaan pada Rusia menambang minyak di Irak.

Perusahaan-perusahaan minyak seperti Shell, Halliburton, BP, dan ExxonMobil lalu mengipasi pemerintah AS dan Inggris untuk mencaplok Irak.

Namun, saat Irak sulit digenggam karena masalah terlalu kompleks, negeri itu disulap menjadi lahan bisnis keamanan sehingga para pedagang senjata, konsultan keamanan perusahaan di wilayah krisis, tentara bayaran, dan para spesialis teknologi keamanan mendadak bergelimang uang.

Kemudian, saat kaum kapitalis itu membutuhkan relaksasi setelah penat berburu laba, maka sejumlah lokasi dibidik menjadi situs wisata eksotis, di antaranya Srilanka. Namun, para nelayan miskin yang mendiami pantai-pantai indah Srilanka tak mau hengkang sampai tsunami menghantam Asia bagian Selatan pada 2004.

Bertopengkan bantuan rekonstruksi pascabencana dan bergerak dalam kerudung USAID, para kapitalis menyandera pemerintah Srilanka, agar “menukarkan” pantai indah Srilanka dengan bantuan tsunami. Situasi serupa berlaku di Thailand dan New Orleans pasca-badai Katrina.

Intinya, kaum kapitalis telah membisniskan perang, teror, anarki, situasi krisis, dan bencana alam untuk memperbesar pundi-pundi mereka dengan penderitaan jutaan orang di dunia. Naomi Klein menyebutnya sebagai “kapitalisme bencana”.

sumber: wikimu.com

Nampaknya ada usaha yang sangat serius dari ‘pihak-pihak tertentu’ melalui pemberitaan media yang tidak berimbang untuk membuat buruk citra kedua hal berikut:

  1. khilafah islam (sistem pemerintahan islam) –> dengan isu munculnya gerakan separatis semacam ISIS

  2. Bendera Rasulullah  Al Liwa dan Ar Roya –> sengaja dibuat agar kesannya seperti bendera ‘teroris’

 

10457741_10202318721840398_9002386218135438264_o

 

 

 

KHILAFAH ? ISIS ?

Tanggapan Syeikh Muhaisini Hafizahulloh Atas Deklarasi Khilafah Versi ISIS

ansharulislam.com, 14 Ramadhaan 1435H/ 12 Juli 2014.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Setelah berbagai ulama jihad seperti Syeikh Abu Muhammad Al-Maqdisi, Sami uraidi, Abu Bashiir at-Turtusi, dll menanggapi munculnya khilafah versi ISIS dengan amirnya Ibrahim Abu Bakar Al-Baghdadi, kini giliran Syeikh Muhaisini yang dulunya banyak berkiprah sebagai “juru damai” antara ISIS dengan mujahidin lainnya angkat bicara. Sebelum menampilkan tanggapan beliau, berikut ini adalah biografi beliau yang menunjukkan beliau sebagai seorang ulama besar, dimana sampai sekarang beliau masih di medan tempur menghadapi bashar assad laknatulloh ‘alaih.

Nama : Abdullah bin Muhammad bin Sulaiman Al-Muhaisini
Status : Sudah menikah
Tempat lahir : dilahirkan di Al-Qashim, di wilayah Buraidah.

  1. Menimba ilmu di Madrasah Ibtidaiyah di Al-Qashim sampai kelas 4.
  2. Kemudian pindah ke Mekah dan tinggal disana, serta menyempurnakan pendidikan ibtidaiyah disana.
  3. Melanjutkkkan pendidikan di Ma’had Ilmi Al-Haram Al-Makki Asy-Syarif, serta menyempurnakan hingga tingkat Mutawashitah, lalu Tsanawiyah. Lulus dari tingkat Tsanawiyah dengan peringkat Mumtaz dengan nilai 9,6
  4. Melanjutkan pendidikan di Perguruan tinggi Ummul Qura, jurusan Syariah Islamiyah, dan lulus dengan gelar Bachelorius dengan peringkat mumtaz, berderajat Asyarof –Al-Ula (Peringkat terbaik pertama), dengan nilai 3,80 dari nilai tertinggi 4.
  5. Melanjutkan pendidikan di Jamiah imam Muhammad bin Saud Al-Islamiy di Riyadh (Ma’had Aliy untuk peradilan), lalu Pasca sarjana jurusan Fiqh muqoronah (perbandingan Fiqh), dan lulus dengan peringkat mumtaz juga.
  6. Doctoral pada bidang Fiqh Muqoronah, dengan judul risalahnya “ Al-Ahkam Laaji-I AlHarb fi Al-Fiqh Al-Islamiy (Hukum Suaka pada peperangan menurut Fiqh Islam).

KEHIDUPAN ILMIYAHNYA :

  1. Telah hafal Al-Quran saat usia 15 tahun.
  2. Menimba ilmu pada Dauroh-dauroh Hifzhus-Sunnah kepaa Syekh Yahya bin Abdul Aziz Al-Yahya Hafizhahullah, dan pada rentang waktu itu beliau menyelesaikan hafalan Ash-Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim-pent), juga Kutubul –Arba’ah (sunan abu dawud, an nasai, at tirmidzi dan ibnu majah),  juga kitab Muwatha imam Malik, juga kitab Ad-Darimi, yang mana beliau hafal semua itu tidak lebih dari 7 tahun mampu hafal 8000 hadits. Dan Syekhnya telah menugaskan beliau direntang waktu itu untuk mengajarkan ilmu-ilmu ini dan memberikan izin kepadanya, dengan nilai mumtaz tingkat tinggi.

Beliau belajar dari sejumlah Ulama, diantaranya :

  1. Syekh Abdullah bin Jibrin Rahimahullah.
  2. Syekh Abdullah Al-Ghunaiman Hafizhahullah
  3. Ulama Ahli Hadits, Syekh Sulaiman Al-Ulwan Hafizhahullah
  4. Syekh Abdurrahman Al-Barok Hafizhahullah
  5. Syekh Sulaiman Al Majid Hafizhahullah
  6. Syekh Ya’qub Al-Bahasan Hafizhahullah
  7. Syekh Yusuf Asy-Sibli Hafizhahullah
  8. Syekh Saad Asy-Syatyri Hafizhahullah
  9. Syekh Abdul Karim Al-Khadhir Hafizhahullah
  10. Dan ulama-ulama lain dari Ahlul-Ilmi dan keutamaan, Hafizhahumullah.

Mengikuti kajian-kajian ilmiyah, diantaranya : 

1.       Dauroh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah di Riyadh.
2.       Dauroh Syekh Ibnu Utsaimin di Anazah.
3.       Dauroh Jami Ar-rojihi, di Buraidah.
4.       Dauroh –dauroh Jami syekh Bin Baz di Mekah.
5.       Menempuh perjalanan ke Mauritania untuk menghafalkan Alfiyah dan mempelajari Syarhnya, juga mempelajari Ushul Fiqh.

Hafal sejumlah matan kitab, diantaranya :

1.        Sab’ah, pada kajian-kajian Syekh Yahya al-Yahya (seperti dijelaskan dimuka)
2.       Alfiyah imam malik
3.       Kitabut-Tauhid
4.       Bulughul maram
5.       Ar-Rahbiyah

Perjalanan Dakwahnya : 

Mengikuti berbagai macam kegiatan dan aktifitas Dakwah, diantaranya :
1.       Bergabung di lembaga dakwah di Aziziyah wal ‘Awaliy selama 5 tahun melaksanakan kegiatan-kegiatan dakwahnya yang banyak.
2.       Ikut serta dalam pembekalan Almushalat almutanaqilah antara Mekah dan Jedah
3.       Menyampaikan dakwah di ceramah-ceramah di dalam negeri Saudi.
4.       Menyampaikan materi ilmiyah dalam bidang Aqidah dan Ushul, Fiqh dan Tafsir
5.       Mengimami shalat tarawih lebih dari 7 tahun.
6.       Sebagai imam dan Khatib untuk masjid Alu Tsani.
7.       Mengikuti musabaqoh antar perguruan tinggi di Negara-negara teluk dalam hafalan As-Sunnah, dan beliau memperolah markaz kedua bagi Ummul Qura.

Data ini diambil dari situs resmi syekh Al-Muhaisini yang memuat biografi beliau, bisa di lihat di : http://mhesne.com/index.php?option=com_content&view=article&id=59&Itemid=121

Demikian secara ringkas biografi beliau, kemudian kami tampilkan tanggapan beliau tentang “khilafah” versi ISIS yang beliau beri judul:

KAMI MENGINGINKAN KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWWAH

Oleh : Syaikh Abdullah Al-Muhaisiny

Saya sebelumnya telah men-tweet memutuskan untuk mencukupi diri sendiri dalam hal apa yang saya klarifikasi berkaitan dengan Jama’ah al-Baghdadi. Namun sebuah insiden, dan saya memohon kepada Allah untuk metoleril para mujahidin, insiden itu adalah pengumuman khilafah oleh Jama’ah al-Baghdadi.

Sekelompok saudara bersikeras bahwa saya harus memperjelas sikap saya secara syar’i, bijaksana, jauh dari sengketa yang sedang berlangsung, jauh dari emosi, dan hanya untuk kebaikan Islam. Jadi saya katakan, dengan mengharap bantuan Allah, melalui tweet-tweet yang berjudul “Nuriduha ‘Ala Minhajin Nubuwwah” (Kami menginginkan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah) :

PEMBUKAAN

Untuk berjuang menuju pembentukan khilafah atas manhaj kenabian, yang mana ummat Muhammad SAW dihinakan dan direndahkan ketika meninggalkan jihad, para ulama’nya merendahkan dirinya untuk menjadi ulama yang diundang oleh para penguasa dan membuat hukum sesuai pesanan mereka, diminta agar mengeluarkan fatwa sesuai keinginan mereka, Wallahu musta’an.

Jadi (mengatakan bahwa) kembali kepada khilafah dan berjuang untuk itu adalah kewajiban yang paling utama, yang mana kekuatan kaum muslimin terletak pada kesatuan dan hubungan mereka, dan karena itu negara-negara Eropa yang sangat ingin memecahkan kesatuan Muslim dengan memberlakukan batas Sykes-Picot. Maka dari itu, tidak ada pendirian Negara Islam dalam artian Negara Islam sebenarnya kecuali melalui khilafah dan tidak ada keselamatan yang sebenarnya bagi kaum Muslimin kecuali melalui khilafah.

Dan saya katakan di sini kepada semua orang yang di dalam hatinya bersarang penyakit wahn, wahai kalian yang terkejut dengan goyahnya kekuatan Barat, dan berpikir bahwa untuk mengejar khilafah adalah khayalan dan imajinasi, kami katakan kepada mereka : Ketahuilah bahwa khilafah akan kembali, dan kami bersumpah dengan Yang tiada Ilah melainkan Dia, bahwa khilafah dan ‘izzah ummat akan kembali. Itulah janji Nabi kita SAW, kalian melihatnya jauh dan kami melihatnya dekat.

Kalian sedang melihat dari perspektif dunia, dan kami melihat perubahan situasi Tunisia kemarin dan kemudian Dia (Allah) yang memasukkan penguasa Mesir (Mubarak) ke penjara, dan kemudian Dia menjadikan yang sebelumnya dipenjara menjadi penguasa (Morsi) dan kemudian kembali Dia penjarakan penguasa itu (Morsi). Memang hanya Dialah yang mampu mengubah kondisi ini, dan tentu saja Dia mampu mengubah kondisi umat Islam saat ini dengan mengatakan “kun Fayakun”. Selain itu, kita hanya dituntut untuk berusaha, sementara hasil maka itu adalah urusan Allah SWT.

Namun meskipun begitu, kami katakan bahwa khilafah yang sedang kita upayakan dengan segenap upaya ini adalah Khilafah yang telah dijanjikan oleh Nabi SAW yang merupakan khilafah “’Ala Minhajin Nubuwwah”.

Adapun selain itu yang ada hanyalah penguasa-penguasa yang zalim, yang umat telah bosan dan telah mengalami penderitaan selama beberapa dekade.

Sesungguhnya mengklaim label khilafah tanpa memenuhi persyaratan-persyaratannya hanyalah yang mencederai perasaan umat Islam, mengeksploitasi emosi mereka dan merugikan agama Allah.

Pengumuman khilafah oleh Jama’ah al-Baghdadi bukan kasus yang pertama, sudah banyak yang mengumumkan seperti itu. Di Aljazair, mereka mengumumkan khilafah dan melawan umat, dan kemudian Barat dan agen-agennya bersukacita atas terjadinya fitnah itu.

Dua tahun lalu, “khilafah” telah diumumkan oleh Abul Banat dan teman-temannya di Suriah, mereka menuntut bai’at, mereka mengisolasi diri dari syura dari umat dan kita lihat, mereka hancur!

Begitu juga di Afghanistan, mereka (juga) mengumumkan “khilafah”, mereka keluar melawan mujahidin, dan memaksa kaum muslimin membai’at mereka. Mereka berjuang, dibunuh dan tewas!

Apa yang harus dipertimbangkan bukanlah menaikkan slogan khilafah, akan tetapi memenuhi persyaratannya. Dan yang harus menjadi pertimbangan adalah bahwa hal itu harus sesuai dengan manhaj kenabian, kalau tidak, kita akan gagal.

Dan di sini kita hari ini, menghadapi berbagai kemungkinan terpecahnya barisan mujahidin, ada upaya untuk mengubur jihad dan untuk memperpanjang perselisihan, perpecahan dan pertumpahan darah. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami mengadu.

Hari ini, Jama’ah al-Baghdadi mengumumkan “khilafah tidak hanya di ‘Irak dan Syam, melainkan di seluruh dunia dari timur ke barat, walaupun tidak ada ulama’ jihad yang mengakui!”.

Kepada kalian orang-orang yang jujur, takutlah kepada Allah, ini adalah upaya yang berkali-kali dilakukan untuk mengubur jihad dan menjauhkan umat dari kelompok-kelompok jihad, para ulamanya, para intelektualnya, dan sungguh kalian akan dipinta pertanggung jawaban di depan Allah Tuhan semesta alam.

Wahai pencari kebenaran, para ulama’ telah menetapkan bahwa penguasa mendapatkan kekuasaan dengan salah satu dari tiga cara:

  1. Penunjukan oleh penguasa sebelumnya
  2. Bermusyawarah dengan metodologi kenabian
  3. Menaklukkan

Adapun poin yang pertama itu tidak mungkin, sehingga tinggal dua poin, bermusyawarah dan memenangkan daerah.

Adapun bermusyawarah, yang merupakan metodologi Nabi SAW yang telah dijanjikan oleh Nabi SAW, bahwa khilafah akan kembali dan itulah yang saat ini kita lakukan, menumpahkan darah di jalan Allah untuk menegakkan kembali khilafah, dan hal ini juga tidak terdapat dalam proses penegakan “khilafah” ‘ala al-Baghdadi.

Agama telah menetapkan untuk setiap ibadah ada persyaratan dan larangannya sehingga amal ibadah tidak dilakukan di tempat yang salah dan menyebabkan kerugian dan tidak bermanfaat, bahkan jika itu menarik bagi pelakunya dan berpikir bahwa dia berada dalam kebaikan, maka pelaku bid’ah dan Sufi ketika mereka menambah-nambahkan shalawat-shalawat mereka, doa-doa dan zikir mereka, dan berpikir bahwa mereka telah berbuat baik.

Seperti shalat itu ada waktunya dan persyaratannya, begitu juga dengan zakat, puasa dan haji. Jadi kecintaan dan keinginan kita untuk shalat, puasa, haji dan mendirikan khilafah tidak membawa kita melakukannya sesuka kita dan kemudian kita berasalan bahwa itu adalah bukti kecintaan dan keinginan kita dalam mengamalkan ibadah. Jangan sampai kita jatuh ke dalam bid’ah dan mengada-ngada dalam agama.

Sesungguhnya penegakan khilafah itu memiliki berbagai persyaratan, dan syarat yang terpenting adalah penegakan dan bermusyawarah. Penegakan yang hakiki  bukan hanya angan-angan, dan bermusyawarah cara Nabi bukanlah musyawarah dengan kelompoknya saja, namun bermusyawarah dengan umat. Khilafah itu milik ummat bukan milik suatu jamaah.

Dan keberadaan Al Baghdadi tidak bisa dikatakan pantas menjadi khalifah, karena salah satu persyaratan yang terpenting adalah memenuhi persyaratan dalam mendirikan khilafah, dan juga memilih Ahlu Halli wal Aqdi dari mereka yang dipilih oleh ummat. Karena sesungguhnya khilafah dalam sudut pandang syariah maupun fiqhiyyah berarti perwakilan, maka seorang khalifah haruslah seorang yang mewakili ummat.

Dan sesungguhnya pengangkatan ini tidak akan berlangsung syar’i, bijaksana dan arif kecuali ummat turut andil dalam memilih khalifah. Dan dalam hal ini, deklarasi khilafah yang dilakukan oleh satu atau segelintir jamaah tidaklah sah.

Apakah terpilihnya Al Baghdadi sebagai khilafah atas pilihan Mullah Umar, Syaikh Ayman Azh-Zhawahiri, amir Imarah Kaukasus, Syaikh Al-Wuhayshi dan lain-lain dari para pemimpin jihad? Apakah ia dipilih oleh ulama atau mayoritas dari mereka? Apakah ia dipilih oleh ahlul Halli wal Aqdi dari kalangan mujahidin dan orang-orang selain mereka? Karena kita tidak mencari khilafah untuk mujahidin saja, tapi khilafah untuk umat. Maka di sini ada pertanyaan, apakah “khilafah” Al-Baghdadi merupakan sebuah khilafah untuk ummat ini atau khilafah untuk jama’ahnya sendiri?

Wahai pencari kebenaran, (bahkan) mengakui kepemimpinan atas daerah tertentu tidak diperbolehkan kecuali dengan konsultasi rakyat yang berpengaruh di daerah itu, dalam hal ini Ahlul Halli wal Aqdi di daerah itu. Bukankah Allah mengatakan : “dan urusan mereka (dilakukan) dimusyawarahkan di antara mereka bersama”?Bukankah Rasulullah SAW bersabda : “Jikalau aku diperintahkan untuk menunjuk siapa pun tanpa konsultasi maka aku akan menunjuk ibn Mas’ud”?

Maka dari itu perlu adanya perwakilan Ahlul Halli wal aqdi pilihan umat.

Sesungguhnya pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi itu bukan dipilih dari golongan mereka sendiri. Mereka mengangkat orang-orang dari jamaahnya menjadi dewan syura kemudian mengklaim diri mereka adalah Ahlul Halli wal Aqdi, itulah adalah yang dilakukan oleh para thagut, bukan cara-cara khilafah.

Siapakah orang-orang yang masuk dalam dewan syura itu? Siapa nama mereka dan apa kondisi mereka? Siapa yang mereka wakili dan siapa yang memilih mereka untuk memilih (khalifah tersebut)?

Deklarasi yang dikenal sebagai “Daulah Islam di Irak dan Syam” adalah kesalahan yang menyebabkan pertumpahan darah umat dan kesengsaraan, dan itu akan ditanggung oleh semua orang yang mendirikannya, mendukung dan berbai’at untuk itu.

Di sini kita hari ini, menghadapi pengumuman khilafah tanpa pembentukan atau musyawarah, ini adalah manhaj ahli bid’ah bukan manhaj kenabian. Jadi berapa banyak darah kaum muslimin yang akan tumpah karena itu?

Sesungguhnya saya melihat bahwa Al-Baghdadi tidak memiliki kekuasaan di sebagian besar Syam, seperti Alleppo, As-Sahil (wilayah pesisir), Homs, Damaskus dan di tempat lainnya. Jadi bagaimana dia mengumumkan khilafah untuk seluruh umat? Ini adalah demi Allah kesalahan yang fatal dan fitnah yang menyilaukan.

Kesalahan ini bahkan lebih mengerikan ketika didirikan dari darah dan pelanggaran kehormatan kaum muslimin, maka Al Baghdadi mendeklarasikan khilafah dan pengumuman bahwa semua orang yang tidak berbai’at kepadanya akan diperangi, yang akan menumpahkan darah para muwwahidin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang berbai’at dan mendukung “khilafah” untuk menumpahkan darah ini, kecelakaanlah bagi kalian saat kalian berdiri di depan Allah yang Maha Perkasa kelak.

Celakalah bagi mereka yang memecahkan barisan mujahidin di dunia Islam! Seolah-olah fitnah mereka akan mencapai Yaman, Maghreb dan Somalia, semoga Allah tidak mengizinkan hal itu, maka bersukacitalah Amerika dan agen-nya ketika itu terjadi!

Dari dilema tentang hal-hal yang tidak ada jalan keluar bagi orang yang jatuh tersebut, adalah pertumpahan darah Muslim tanpa alasan. Kami dan juga para mujahidin, demi Allah, tidak berangkat jauh-jauh untuk menumpahkan darah dan melanggar kehormatan kaum muslimin dan mujahidin lainnya, melainkan kami datang untuk menghapus penindasan, kufur dan fitnah. Maka bertakwalah kepada Allah dalam urusan dengan kaum muslimin.

Memang kurangnya konsultasi para mujahidin dan ulama adalah fitnah terbesar, ini akan menyebabkan pertempuran dan pertumpahan darah. Seandainya mereka kembali kepada para ulama sebagaimana yang diperintahkan Allah maka mereka pasti menang!

Jika tidak ada Khilafah yang sesuai dengan manhaj kenabian, maka yang ada hanyalah penaklukan dan perampasan, dan itu adalah aturan tirani bukan aturan khilafah seperti yang dijanjikan oleh Nabi SAW.

Dan jika mereka mengklaim bahwa kepemimpinan Al-Baghdadi tidak bisa dicapai melalui konsultasi tapi melalui pemaksaan, maka semua ulama’ telah bersepakat dalam memerangi pemimpin yang fasik, maka wajib memukul mundur dia di daerah-daerah yang tidak ia kuasai.

Jadi, jika kalian mengatakan bahwa dia penakluk dan pemenang, maka bila diasumsikan, bai’atnya di Raqqah disebabkan kekuasaannya di daerah itu. Namun daerah lainnya tidak melihat dia sebagai pemimpin tanpa melewati proses musyawarah, dan karena dia penakluk maka dia fasiq dan tidak boleh membai’atnya bahkan diharuskan untuk mengusirnya.

Dari apa yang telah disebutkan sebelumnya, berdirinya khilafah Al-Baghdadi bukanlah berdasarkan permusyawarahan Ahlul Halli wal Aqdi, melainkan sebuah bai’at yang bathil yang hanya menyengsarakan umat, memecahkan barisan mereka dan menumpahkan darah mereka.

PENUTUP

Wahai pencari kebenaran, deklarasi khilafah yang dilakukan secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan para ulama dan kelompok-kelompok mujahidin lainnya, adalah deklarasi yang bathil, dan hanya menegaskan kepalsuan dari kelompok ini dan itu adalah pelanggaran terhadap hak-hak umat Islam lainnya.

Tujuan dari penunjukan seorang khalifah adalah untuk menyatukan kata, untuk menyatukan jamaah kita, untuk mendirikan agama, untuk melaksanakan keputusan dari Allah, untuk mengangkat penindasan dan untuk menyebarkan keadilan. Jadi saya bertanya kepada kalian, demi Allah, tindakan kalian ini menyatukan ummat atau memecah belah ummat?

Wahai pencari kebenaran, sesungguhnya orang yang mampu dan pantas dibaiat sebagai pemimpin adalah orang yang yang mampu menyebarkan kekuasaannya ke semua negara-negara Muslim, maka membai’atnya adalah wajib pada seluruh ummat.

Orang yang tidak memiliki kemampuan atau kekuasaan atas sebagian besar umat Islam, tanah mereka, sumber daya dan SDM mereka, maka orang ini tidak layak menjadi khilafah kecuali hanya nama.

Sesungguhnya kewajiban pemimpin dalam Islam lebih besar dan lebih dari sekedar menyenangkan dan memberi gelar untuk dirinya sendiri.

Apakah khalifah yang anda pilih mampu melindungi orang-orang Yaman, Somalia atau di tempat lainnya? Bagaimana dia bisa menjadi khalifah sementara ada hadits yang mengatakan: “Imam adalah perisai”??

Apakah dia benar-benar menjadi perisai bagi umat, yang ia mintakan bai’atnya dari mereka, dari segala sesuatu yang merugikan mereka atau menakutkan mereka, sedangkan Nabi SAW bersabda: “Imam adalah perisai”.

Menuntut ketaatan dan bai’at bagi orang yang yang tidak mampu mengurus urusan ummat yang jauh dari tempatnya adalah manifestasi dari ketidaktahuan mengenai tujuan dari khilafah dan tugas-tugasnya itu sendiri.

Sesungguhnya khilafah yang telah diumumkan tidak lebih dari menumpahkan lebih banyak darah dari Ahlu Sunnah, lebih banyak pelanggaran dan sebagai alasan untuk membunuh orang-orang yang menentang mereka dari mujahidin dan muwahhidin.

Ini berarti adalah upaya untuk menghilangkan dan memerangi kelompok lain selain mereka yang tidak setuju dengan keinginan “Daulah”.

Ini berarti adalah perang melawan Al-Qaeda dan cabang kelompok yang telah menggentarkan pemerintah Barat dan sekutunya, karena mereka tidak berbai’at kepada khalifah, dan dengan demikian terjadi perang melawan Ahlu Sunnah atas dalih menegakkan Sunnah!

Pengumuman khilafah berarti mengepung organisasi jihad sebelum mereka melangkah ke fase selanjutnya, yang berarti itu adalah perang melawan mujahidin atas nama agama!

Wahai pencari kebenaran, ketika kalian memberi label kepada semua orang yang menentang anda sebagai orang yang sesat, bahkan memerangi mereka, padahal mereka berasal dari mujahidin Ahlu Sunnah yang tulus, maka ini adalah tanda terbesar dari kesesatan kalian.

Wahai Jama’ah al-Baghdadi dan pendukungnya, sesungguhnya kata kebenaran yang kami sampaikan telah disampaikan sebelumnya oleh para ulama besar terdahulu, sesungguhnya ummat dan daulah Islam itu bukan hanya di Raqqah atau Mosul, ummat Islam itu lebih besar dari kalian dan kami, jadi takutlah kepada Allah dalam hal itu.

Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kelompok mujahidin di Afghanistan, Yaman, Chechnya dan Maghreb, janganlah merusak jihad mereka.

Sesungguhnya agama Allah tidak dengan slogan yang berapi-api atau kata-kata yang mempesona, dan kalian akan mengetahui dampak dari tindakan anda beberapa saat lagi.

Dan bagi Allah segala urusan, sebelum dan sesudahnya.
Tanggapan beliau ini dapat dilihat pada situs resmi beliau: www.mhesne.com

Jawaban Bagi yang Meragukan Rasulullah Masuk Surga

N.B. semoga orang2 yang membaca artikel ini adalah orang yang benar2 ingin mencari ilmu, mencari tahu kebenaran karena sangat meyakini Beliau (Rasulullah) adalah manusia paling mulia yang semua dosa-dosanya telah dimaafkan oleh Allah, dan SUDAH DIJAMIN MASUK SURGA. jadi jika ada yang membaca artikel ini untuk mencari-cari kesalahan dalam penulisannya, dan kemudian melontarkan komentar yang ingin menyerang isi nya demi membenarkan pendapat pribadi bahwa “Rasulullah tidak dijamin masuk surga”, maaf, komentar anda tak akan saya terima dan akan langsung saya anggap sebagai spam!

Bukan masalah setinggi apa orang itu sudah mengkaji ilmu agama. Sungguh bukan itu yg menjadi masalah. Tapi kemuliaan seorang Rasul yg selama ini kita hormati dan kita cintai bisa dgn seketika hancur dgn satu kalimat yg dikeluarkan secara tidak hati2.

Jika kita tanyakan pada hati nurani kita yg notabene tidak sekolah agama sampai bergelar profesor ini “apakah kau yakin bahwa Rasulullah, manusia yg dianggap paling mulia oleh Allah, manusia yg dipilih Allah utk mengemban risalah agama ini untuk disebarkan kepada ummat manusia, manusia paling indah akhlaq nya, sudah dijamin Allah masuk surga?” seharusnya hati nurani yg paling lembut dan bersih ini mengatakan “ya. Saya YAKIN”

Maka tak akan lagi ada perdebatan diantara muslimin jika ada pernyataan yg aneh keluar dr lisan seseorang yg meragukan jaminan surga bagi Rasulullah, tak perlu lagi ada yg membela dan membantu orang itu menjelaskan dari mana dia mengambil sumber utk mnyokong pendapatnya. Sungguh. Siapa yg akan memberikan kita syafaat di akhirat kelak jika bukan Rasulullah?

Sungguh. Seharusnya kita malu pada Rasulullah. seharusnya rasulullah lah yg kita bela, buka siapa2 selain beliau. Beliau begitu menyayangi kita hingga di akhir hayatnya, ketika nyawa hampir dicabut dari jasadnya, yg dia sebut adalah “ummatku…unmatku…ummatku…”

Begitu besar sayangnya beliau pada kita. Mugkin jika ia masih hidup dan menyaksikan kita saat ini, dia akan menangis melihat kondisi ummat yg begitu ia sayangi ini malah memperdebatkan dan meragukan jaminan surga untuk beliau. Sungguh seharusnya kita malu…

Sholawat serta salam smoga slalu tercurah kepadamu ya nabiyullah. Maafkan kami, dan jangan masukkan kami ke dalam golongan org2 yg tak kau beri syafa’at kelak di padang mahsyar.

Tertanda, saudarimu, seorang manusia yg penuh khilaf dan salah, yg hanya ingin berusaha mengembalikan keyakinan dan kecintaan kita semua pada Rasulullah Muhammad SAW.

Berikut saya sertakan tulisan oleh ust. Bachtiar Natsir berjudul “Jawaban bagi yang meragukan Rasulullah masuk surga”

sumber: http://aqlislamiccenter.com/2014/07/18/jawaban-bagi-yang-meragukan-rasulullah-masuk-surga/

Syubhat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dapat dipastikan masuk Surga bukanlah hal baru, keraguan seperti ini banyak disebarkan oleh orang-orang Nasrani dan tokoh sekuler dari kalangan muslim.

Untuk menjawabnya cukup sederhana; “Bukankah telah disediakan telaga Al-Kautsar atau telaga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disediakan bagi calon penghuni Surga?”.

Hadits yang sering mereka jadikan sebagai pintu masuk untuk merasukkan doktrin keraguan (tasykik) diantaranya adalah hadits riwayat Imam al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

»لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا«
“Salah seorang dari kalian tidak akan dapat diselamatkan oleh amalnya,” maka para sahabat bertanya, “Tidak juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga saya, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Maka beramallah kalian sesuai sunnah dan berlakulah dengan imbang, berangkatlah di pagi hari dan berangkatlah di sore hari, dan (lakukanlah) sedikit waktu (untuk shalat) di malam hari, niat dan niat maka kalian akan sampai.”
Juga hadits Dalam riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda :
»سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Beramalah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya.” Para sahabat bertanya, “Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Dari hadits di atas, para penafsir dengan hawa nafsunya berdalih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memiliki jaminan masuk surga, baik untuk dirinya maupun umatnya.
Untuk membantah pemahaman salah tersebut, maka diperlukan pemahaman terhadap hadits dengan benar.
Dua hadits di atas mengandung hal yang mendasar dan menjadi kaidah yang penting. Hal mendasar dan sifatnya asas adalah bahwa amal perbuatan manusia tidak dapat menjaminnya untuk selamat dari api Neraka dan tidak pula dapat menjaminnya untuk masuk surga, karena masuk surga dan selamat dari api neraka disebabkan oleh ampunan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala; karena seorang muslim meyakini dan mengimani bahwa segala sesuatu berada di Tangan Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui tempat kembalinya manusia.
Tidak seperti orang nasrani yang tersesat dengan mengimani bahwa yesus sang penebus, yang diantara ajarannya kepada pemeluknya : akuilah dosa-dosa kalian kepada para pendeta niscaya kalian akan diampuni, walaupun pendeta tersebut bukan orang yang lurus. Berbeda dengan seorang Muslim yang berkeyakinan bahwa seseorang tidak dapat menjamin dirinya masuk surga, bahkan dengan amal shalihnya sekalipun, karena seseorang masuk surga disebabkan rahmat dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan hal diatas, di antaranya adalah :
)فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ( [آل عمران : 195]
Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
Ayat diatas menegaskan bahwa Allah menghapuskan kesalahan hamba-Nya baru kemudian memasukkannya ke dalam Surga.
)تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ( [الصف : 11-12]
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
Allah hanya memasukkan hambanya yang sudah mendapatkan ampunan dosa-dosa dari-Nya.
Sekali lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghubungkan antara masuknya seseoang ke Surga dan selamatnya dari Neraka dengan maghfirah dan rahmat-Nya untuk menunjukkan bahwa hal tersebut tidak akan didapat tanpa adanya maghfirah dan rahmat-Nya.
Para salaf berkata, “Di akhirat kelak hanya ada dua kemungkinan; ampunan Allah atau Neraka, sedangkan di dunia juga cuma ada 2 hal saja; penjagaan Allah atau kebinasaan.”
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata kepada para sahabatnya ketika menjelang wafat, “Alaikumus salam,  bisa jadi neraka atau ampunan Allah.”
Adapun firman Allah :
)وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ( [الزخرف : 72]
Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.
)كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ( [الحاقة : 24]
(kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa masuknya seseorang ke Surga karena rahmat Allah, dan penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.
Ibnu ‘Uyainah berkata, “Mereka berpendapat bahwa selamatnya seseorang dari api neraka itu disebabkan karena adanya ampunan dari Allah, dan masuknya seseorang ke surga disebabkan karena anugerah dari Allah serta penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.”
Coba perhatikan konotasi huruf al-Ba’ dalam firman Allah :
(بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)
(بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ)
Adalah ba’ sababiyyah (ba’ yang mengandung arti sebab), jadi maknanya adalah Allah menjadikan amal seseorang sebagai sebab masuknya seseorang ke dalam surga.
Sedang ba’ dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
)لَا يَدْخُلُ أَحَدُكُمْ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ) [رواه أحمد]
Adalah ba’ muqabalah dan mu’awadhah (mengandung arti timbal balik) jadi makna dari hadits adalah Salah seorang dari kalian tidak akan masuk surga dengan amal perbuatan yang dia kerjakan.
Hadits ini menjawab keraguan orang yang mengira bahwa surga itu diperoleh karena hasil dari amal perbuatannya, dan menghapus keraguan bahwa orang yang mengerjakan suatu perbuatan akan secara otomatis berhak mendapatkan surga sebagaimana orang yang sudah membayar dengan harga tertentu akan mendapatkan barang dari harga yang sudah dibayar.
Hadits tersebut juga menjelaskan bahwa sebab seseorang masuk surga adalah karena anugerah dan rahmat-Nya. jadi masuknya seseorang ke dalam surga disandarkan kepada anugerah, rahmat, dan maghfirah-Nya, karena Dia-lah yang memberikan anugerah berupa sebab dan amalan yang menyebabkan seseorang beramal, jadi masuknya seseorang ke dalam surga tidak hanya disebabkan hanya karena amalnya sendiri.
»إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Hadits di atas menunjukkan bahwa seseorang betapapun tinggi derajat dan keutamaannya tidak akan selamat hanya karena amalnya, bahkan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seandainya Allah tidak memberikan anugerah berupa diampunkannya dosa-dosa; baik yang telah lalu maupun yang akan datang, maka beliau tidak bisa selamat dengan amalnya.
والسلام علي من اتبع الهدي

Diantara kelemahan Prof. Quraish Shihab yang sangat mendasar dalam menyampaikan hadits adalah menyampaikannya hanya dengan maknanya saja, dan bisa jadi dua hadits yang berbeda digabungkannya menjadi satu dan bercampur baur dengan ucapannya, dan tanpa menyebutkan referensi kitab-kitab hadits, tidak pula sahabat yang meriwayatkan.

Dan kami mengira hadits yang dimaksudkan di atas adalah dua hadits yang berbeda, yaitu:

Pertama: Hadits Ummul ‘Alaa Al-Anshoriyah radhiyallahu’anha, beliau berkata ketika meninggalnya sahabat yang mulia Abus Saaib ‘Utsman bin Maz’un radhiyallahu’anhu:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي – وَأَنَا رَسُولُ اللهِ – مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Rahmat Allah atasmu wahai Abus Saaib (‘Utsman bin Mazh’un). Aku bersaksi bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Apa yang telah membuat engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku mengatakan, ”Demi bapakmu (ini bukan untuk bersumpah, Pen), lalu siapa yang dimuliakan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Adapun Abus Saaib maka telah datang kematiannya, demi Allah sungguh aku mengharapkan kebaikan baginya. Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.” Kemudian Ummul ‘Alaa’ mengatakan, “Maka demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi memastikan seseorang (telah dimuliakan oleh Allah).” [HR Bukhari]

Perhatian: Tentang ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas,

وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي

“Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.”

Maka ucapan beliau tersebut sebelum turun firman Allah ta’ala yang mengabarkan bahwa dosa-dosa beliau semuanya telah diampuni. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang.” [Al-Fath:1-2]

Apakah mungkin setelah dosa seseorang diampuni semuanya oleh Allah ta’ala lalu kemudian ia belum dijamin masuk surga?!

Dan terdapat beberapa hadits yang semakna dengan hadits Ummul ‘Alaa’ Al-Anshoriyah di atas, diantaranya adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih beliau pada bab, Tidak Boleh Mengatakan Fulan Syahid:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِه

“Abu Hurairah berkata, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: Allah yang lebih mengetahui siapa yang berjihad di jalan-Nya, Allah yang lebih tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.” [HR. Al-Bukhari]

Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak boleh memastikan seseorang itu mati syahid walau ia meninggal di medan jihad, karena kita tidak mengetahui keadaannya yang sesungguhnya di sisi Allah. Maka demikian pula, lebih tidak boleh lagi memastikan seseorang masuk surga walau kita melihat amalannya baik, karena belum tentu diterima di sisi Allah, sebab kita tidak tahu niat orang tersebut ketika beramal.

Namun larangan memastikan seseorang mati syahid dan masuk surga ini hanya berlaku bagi mereka yang belum dipastikan syahid atau masuk surga, adapun yang sudah dipastikan dan sudah dijamin masuk surga maka wajib bagi kita untuk meyakini bahwa ia pasti dan terjamin masuk surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَيَشْهَدُونَ بِالْجَنَّةِ لِمَنْ شَهِدَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ كَالْعَشَرَةِ وَكَثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الصَّحَابَةِ

“Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan (memastikan) akan masuk surga, orang orang yang dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam akan masuk surga, seperti 10 sahabat, Tsabit bin Qois bin Syammas, dan selain mereka dari kalangan para sahabat.” [Matan Al-Aqidah Al-Washitiyah]

Hal itu karena wajib membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرَةٌ فِى الْجَنَّةِ النَّبِىُّ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ ». وَلَوْ شِئْتَ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ. قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ.

“Sepuluh orang di surga, Nabi (Muhammad) di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair bin Al-‘Awwam di surga, Sa’ad bin Malik di surga, Abdur Rahman bin ‘Auf di surga.” (Sa’id bin Zaid) berkata, “Kalau engkau mau aku akan sebutkan yang kesepuluh.” Mereka berkata, “Siapakah dia?” Maka beliau diam. Mereka berkata lagi, “Siapakah dia?” Beliau berkata, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan ini adalah lafaz Abu Daud, Lihat Ash-Shahihah: 1435]

Dalam lafaz At-Tirmidzi:

وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ

“… Abu Ubaidah (di surga) dan Sa’ad bin Abi Waqqash di surga.” [HR. At-Tirmidzi dari Sa’id bin Zaidradhiyallahu’anhu, Shahih At-Tirmidzi: 2947]

Perhatian: Dalam lafaz Abu Daud di atas sangat jelas disebutkan, “Nabi (Muhammad) di surga.” Semoga kita termasuk orang-orang yang membenarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dan tidak mendustakannya.

Adapun tentang sahabat yang mulia Tsabin bin Qois bin Syammas, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda tentang beliau,

بَلْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Bahkan ia termasuk penghuni surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan inimlafaz Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Jadi, pendalilan Prof. Quraish Shihab dengan hadits yang disebutkannya untuk menafikan jaminan surga bagi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah tidak tepat, karena terdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dan sahabat telah dijamin masuk surga.

Dan telah dimaklumi bahwa untuk mengambil satu kesimpulan dari dalil hendaklah mengumpulkan terlebih dahulu seluruh dalil yang terkait, bukan mengambil sebagian dalil dan membuang yang lainnya. Oleh karena itu dalam ilmu tafsir juga dikenal adanya nash-nash yang umum dan khusus, yang muthlaq danmuqoyyad, yang naasikh dan mansukh.

“Politik” Proklamasi Tegaknya al-Khilafah oleh ISIS

Berikut adalah pernyataan amir hizbut tahrir, Atha’ bin Khalil Abu Ar-Rasytah mengenai pendeklarasian daulah islam oleh ISIS. Semoga kita bisa lebih berhati-hati dalam menelaah pemberitaan yg hanya disebarkan melalui sosmed dan youtube. Semoga bisyarah Rasulullah akan tegaknya khilafah islam yg dirindukan ummat islam di seluruh penjuru dunia akan segera terwujud… 

“Politik” Proklamasi Tegaknya al-Khilafah oleh ISIS

Silsilah Jawaban asy-Syaikh al-‘Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir atas Pertanyaan di Akun Facebook Beliau

“Politik” Proklamasi Tegaknya al-Khilafah oleh ISIS

Kepada semua saudara yang mengirimkan permintaan penjelasan tentang proklamasi tegaknya al-Khilafah oleh ISIS… dan mohon maaf tidak dituliskan nama-nama Anda karena sangat banyak…

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.

Kami telah kirimkan sebelumnya jawaban pada waktu itu dan saya ingin ulangi kepada Anda:

Saudara-saudara yang dimuliakan,

1. Sesungguhnya tanzhim (organisasi) apapun yang ingin memproklamirkan al-Khilafah di suatu tempat, yang wajib baginya adalah mengikuti thariqah Rasulullah Saw dalam hal itu. Diantaranya adalah, organisasi itu memiliki kekuasaan yang menonjol di tempat tersebut, yang menjaga keamanannya di dalam dan di luar negeri. Harus ada pilar-pilar negara di daerah yang di situ diproklamirkan al-Khilafah… Itulah yang dahulu ada pada Rasulullah Saw ketika beliau mendirikan Daulah Islamiyah di al-Madinah al-Munawarah: 
Kekuasaan di sana adalah milik Rasul Saw, keamanan dalam negeri dan luar negerinya dijamin dengan keamanan (kekuasaan) Islam, dan negara itu memiliki pilar-pilar negara di wilayah tersebut.

2. Sementara itu, organisasi yang memproklamirkan al-Khilafah tersebut, tidak memiliki kekuasaan atas Suriah dan tidak pula atas Irak. Organisasi itu juga tidak merealisasi keamanan dan rasa aman di dalam negeri dan tidak pula di luar negeri, hingga orang yang dibaiat sebagai khalifah saja tidak bisa muncul di sana secara terbuka, akan tetapi keadaannya tetap tersembunyi seperti keadaannya sebelum proklamasi daulah! Ini menyalahi apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw, sebelum daulah tegak, boleh saja bersembunyi di goa Tsur. Akan tetapi setelah berdiri daulah, beliau Saw memelihara urusan-urusan masyarakat, memimpin pasukan, memutuskan perkara di antara orang-orang yang bersengketa, mengirim para utusan, dan menerima para utusan secara terbuka tanpa sembunyi. Jadi, sebelum berdiri daulah berbeda dengan sesudahnya… Begitulah, proklamasi organisasi itu atas al-Khilafah adalah ucapan sia-sia (laghwun) tanpa isi. Itu sama saja dengan yang sebelumnya dalam hal proklamasi al-Khilafah, tanpa realita riil di lapangan dan tidak memiliki pilar-pilar. Semua itu hanya untuk memuaskan apa yang ada di dalam diri mereka. Yang ini memproklamirkan diri sebagai khalifah. Yang itu memproklamirkan diri sebagai al-Mahdi… dan sebagainya, tanpa pilar-pilar, tanpa kekuasaan dan tanpa menguasai keamanan dan rasan aman…!

3. Sesungguhnya al-Khilafah adalah negara yang punya bobot. Syariah telah menjelaskan thariqah pendiriannya dan tata cara menggali hukum-hukumnya tentang pemerintahan, politik, ekonomi, hubungan-hubungan internasional… Bukan hanya proklamasi nama tanpa isi, yang dilontarkan di situs-situs elektronik atau media massa-media massa audio visual. Proklamasi al-Khilafah merupakan kejadian agung yang mengguncang dunia. Akarnya menancap dalam di bumi. Kekuasaannya menjaga keamanan dalam dan luar negeri atas wilayah tersebut, menerapkan Islam di dalam negeri dan mengembannya ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad…

4. Proklamasi yang terjadi adalah ucapan yang sia-sia (laghwun), tidak memajukan dan tidak memundurkan dalam hal realita organisasi ISIS. ISIS adalah gerakan bersenjata, baik sebelum proklamasi dan setelah proklamasi. Posisinya seperti gerakan-gerakan bersenjata lainnya yang saling memerangi satu sama lain dan juga berperang melawan rezim, tanpa satu pun dari faksi-faksi itu bisa meluaskan kekuasaan atas Suria atau Irak atau keduanya. Seandainya ada faksi dari faksi-faksi itu, termasuk ISIS, yang mampu meluaskan kekuasaannya atas wilayah yang memiliki pilar-pilar negara dan memproklamasikan al-Khilafah serta menerapkan Islam, niscaya layak untuk dibahas guna dilihat jika al-Khilafah yang didirikannya sesuai hukum-hukum syariah, sehingga pada saat itu diikuti. Hal itu karena penegakan al-Khilafah merupakan kewajiban atas kaum Muslimin dan bukan fardhu atas Hizbut Tahrir saja. Maka siapa saja yang berhasil menegakkannya dengan benar, ia diikuti… Fakta yang terjadi saat ini tidak lah seperti itu. Semua faksi bersenjata (milisi), di antaranya ISIS, tidak memiliki pilar-pilar negara, tidak memiliki kekuasaan atas wilayah, dan tidak menguasai keamanan dan rasa aman. Karena itu, proklamasi ISIS atas tegaknya al-Khilafah adalah ucapan sia-sia (laghwun), tidak layak diperhatikan untuk dibahas pada realitanya sebab sudah tampak jelas…

5. Yang layak untuk diperhatikan dan dikaji adalah kekhawatiran adanya dampak negatif atas proklamasi ini, terkait ide al-Khilafah pada orang-orang yang berpikiran dangkal. Sehingga ide al-Khilafah pada diri mereka jatuh dari posisi sentralnya yang agung dan urgensitasnya bagi kaum Muslimin. Jatuh pada pemikiran yang rapuh, yang sekadar menjadi penyaluran perasaan-perasaan gelisah pada sebagian person. Maka salah seorang dari mereka berdiri di lapangan atau di medan atau di kampung, lalu memproklamirkan diri bahwa dia adalah khalifah, kemudian dia mengundurkan diri dan menyangka telah berbuat sebaik-baiknya! Maka al-Khilafah akan kehilangan urgensitas dan keagungannya pada hati orang-orang yang berpikiran dangkal dan menjadi tidak lebih dari nama bagus yang dijadikan sebutan bagi orang yang menginginkan tetapi tanpa isi… Inilah yang layak diperhatikan, khususnya saat di mana al-Khilafah telah makin dekat, lebih dekat dari sebelum-sebelumnya, dan kaum Muslimin telah menunggu pendiriannya dengan tidak sabar. Mereka melihat Hizbut Tahrir meniti jalan dalam urusannya, dengan berpegang teguh kepada thariqah Rasulullah Saw tentang tata cara pendirian al-Khilafah di al-Madinah al-Munawarah… Kemudian mereka melihat adanya interaksi dinamis dan ekspresif yang berpengaruh antara Hizbut Tahrir dengan umat yang mengasuhnya. Dari interaksi ini kaum Muslimin paham makna ukhuwah Islam. Mereka mencari kabar gembira akan kesuksesan Hizb dalam menegakkan al-Khilafah dan baiknya ri’ayah asy-syu’un dan menjadi benar-benar Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian… Pada saat yang demikian, justru datang proklamasi ini. Maka proklamasi itu mendatangkan potret kabur, jika bukan malah palsu, tentang realita al-Khilafah di benak orang-orang yang berpikiran dangkal di antara masyarakat…

6. Semua itu memunculkan tanda tanya, bahkan banyak tanda tanya… seputar timing proklamasi ini tanpa kekuasaan yang nyata dan stabil bagi pemilik proklamasi; yaitu kekuasaan yang menjaga keamanan negara ini di dalam dan luar negeri. Begitulah yang terjadi di Facebook atau media massa… Timing ini mencurigakan, khususnya bahwa gerakan-gerakan bersenjata yang tegak bukan atas asas takatuliyun fikriyun (kelompok yang bersifat intelektual), membuat infiltrasi menjadi mudah. Masuknya orang-orang jahat dari Timur dan Barat di barisannya adalah mudah. Sudah diketahui bersama bahwa Barat dan Timur terus melakukan tipu daya terhadap Islam dan al-Khilafah. Kepentingan mereka adalah memalsukan potretnya. Jika mereka tidak bisa memadamkan namanya, maka mereka sangat mementingkan agar al-Khilafah tidak lain hanyalah nama yang digunakan oleh orang yang menginginkan tanpa isi sama sekali. Sehingga kejadian agung yang menampar kaum kafir menjadi sekadar nama yang dijadikan ejekan oleh musuh-musuh itu siang malam…!

7. Atas semua yang diperbuat musuh-musuh jahat itu, kita tegaskan kepada musuh-musuh Islam dari Timur dan Barat, antek-antek dan para pengikutnya, serta orang-orang bodoh mereka, bahwa al-Khilafah yang telah memimpin dunia berabad-abad adalah sudah diketahui dan tidak majhul, kuat menghadapi distorsi bagaimanapun tipu daya dan konspirasi dilakukan.

﴿وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾

“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (TQS al-Anfal [8]: 30)

Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa telah mendatangkan untuk khilafah satu partai yang menghimpun orang-orang, yang perdagangan dan jual beli tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah. Mereka melingkupi khilafah dengan pikiran, pendengaran, dan penglihatannya. Mereka telah menyiapkan segala persiapan yang dibutuhkan untuk khilafah. Mereka istinbath hukum-hukum dan konstitusinya, serta struktur pemerintahan dan administrasinya. Mereka berjalan dalam upaya menegakkannya dengan meneladani sirah Rasulullah Saw tanpa menyimpang sehelai rambut pun… Mereka, dengan izin Allah, merupakan pagar yang menghalangi kekaburan tentang khilafah. Mereka layaknya batu cadas, yang dengan pertolongan Allah, dapat menghancurkan konspirasi-konspirasi kaum kafir, antek-antek, dan para pengikutnya. Mereka adalah para politisi yang memiliki kesadaran, yang dengan kekuatan Allah, dapat membalikkan segala tipu daya musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin menjadi kebinasaan bagi musuh-musuh itu.

﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ﴾

“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” (TQS Fathir [35]: 43)

Saudara-saudara yang dimuliakan,

Sesungguhnya perkara al-Khilafah al-Islamiyah amatlah agung dan posisinya sungguh sangat signifikan. Berdirinya tidak akan sekadar berita yang menjadi bahan ejekan media massa menyesatkan. Akan tetapi dengan izin Allah, berdirinya Khilafah akan menjadi ‘gempa’ menggema, yang membalikkan neraca internasional dan mengubah wajah dan arah sejarah… Sesungguhnya Khilafah akan kembali berupa Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian, sebagaimana yang disampaikan kabar gembiranya oleh Rasul saw. Maka orang-orang yang menegakkannya, mereka seperti orang-orang yang menegakkan Khilafah Rasyidah pertama, orang-orang yang bertakwa lagi bersih, mencintai umat dan umat mencintai mereka, mereka mendoakan umat dan umat pun mendoakan mereka. Umat merasakan kebahagiaan bertemu dengan mereka dan mereka merasakan kebahagiaan bertemu dengan umat; bukannya keberadaan mereka di tengah umat justru dibenci… Begitulah, mereka adalah ashhâbul khilâfah mendatang yang mengikuti manhaj kenabian. Allah akan memberikannya kepada orang yang memang layak untuknya. Dan sungguh kita memohon kepada Allah agar kita termasuk orang-orang yang layak itu dan termasuk orang-orang yang mengaturnya. Kita memohon kepada Allah SWT agar memberi karunia kepada kita dengan tegaknya al-Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.

﴿فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ﴾

“Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu…” (TQS alt-Tawbah [9]: 111)

Janganlah Anda berputus asa dari rahmat Allah, sehingga Allah tidak menyia-nyiakan untuk Anda wahai saudara-saudara yang dimuliakan, kelelahan yang telah Anda persembahkan. Allah tidak menolak permohonan yang Anda pinta dari-Nya, Allah tidak menggagalkan harapan yang Anda ajukan kepada-Nya. Maka tolonglah kita dengan meningkatkan kesungguhan dan pemberian. Perlihatkan kepada Allah dari diri Anda kebaikan, niscaya Allah menambah kebaikan untuk Anda. Jangan sampai ucapan main-main bisa memalingkan Anda dari perjuangan Anda yang penuh kesungguhan lagi jujur.

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.

3 Ramadhan 1435 H
1 Juli 2014 M

Selesai jabawan yang telah saya kirimkan sebelumnya.
Saya berharap jawaban ini mencukupi. Semoga Allah memberikan taufik kepada Anda dan menolong Anda. Dan semoga Allah memberi menunjuki kami dan Anda kepada perkara yang paling lurus.

Saudaramu
Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

04 Ramadhan 1435 H
02 Juli 2014 M
http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php/contents/entry_37540

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di http://hizbut-tahrir.or.id/gabung/

Insya Allah, syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda. (jika lebih dari 2 minggu, saudara/i bisa memberitahukan lewat pesan inbox)
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Facebook : https://www.facebook.com/Htiinfokom
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
===============================