Menyapa rekan-rekan follower

Assalamu’alaykum warohmatullah…

Senang sekali rasanya bisa menghidupkan kembali blog ini. Kemarin sempat vacum karena terlalu fokus di hobi baru (fotografi), hehe. Tapi ternyata kalau dipikir-pikir sebenarnya dua hobi ini (menulis dan memotret) bisa dikombinasikan untuk dakwah secara maksimal.

Dari pertimbangan itulah makanya blog ini dihidupkan lagi. Selain karena tangan saya juga gatal untuk nggak nulis barang sehari. Sebuntu-buntu nya dan sekosong-kosongnya kepala saya dari ide, rasanya tetap ada keinginan kuat untuk nulis. Mungkin karena sudah dari dulu banget hobinya kesitu melulu ya, kalau ada apa-apa pasti langsung ditulis, ketimbang cerita sama orang mending dibikinin tulisan yang bisa memberi manfaat untuk orang lain yang juga merasakan hal yang sama. Iya kan? 😊

Blog ini juga sudah berganti nama dan domain, lho. Dulu tetep kekeh pake nama galau “the girl with the broken wings” tapi seiring menua nya saya (haha) rasanya nama itu makin nggak cocok di sematkan di blog ini, selain karena yang punya bukan lagi anak remaja labil, juga karena konten blog nya sudah hampir berubah, tulisan galau mungkin masih ada, tapi cara si penulis membawa kegalauannya in syaa Allah udah jauh beda kok sekarang. (Ciee..hehehe)

Semoga rekan2 follower semua suka dengan tampilan, nama, dan isi blog yang lahir kembali ini.

Oh iya, di kolom sidebar ada link ke fanpage dan akun instagram saya ya. Isinya sama saja sih dengan yang di blog. Tapi mungkin kalau di instagram saya lebih aktif dan lebih banyak nulis. Kalau sempat, di follow ya 😊

Advertisements

Jepang, antara Kemajuan Teknologi dan Industri Seks

Oleh : Hasya Tasnim
Aktivis Sekolah Pena Dakwah Lombok

Kesuksesan sebuah negara menurut pandangan masyarakat awam biasanya hanya dilihat dari segi pencapaian pembangunan dan kecanggihan teknologinya. Jika menggunakan parameter di atas, maka Jepang adalah salah satu negara yang mampu meraih kesuksesannya.

Apa yang tidak dimiliki jepang? IPTEK dan science yang berkembang begitu pesat, robot-robot canggih yang diciptakan setiap waktu guna memudahkan kehidupan manusia, gedung-gedung pencakar langit yang megah, keteraturan lalu lintas, kebersihan kota, masyarakat yang hampir sebagian besar memahami pentingnya hidup sehat tanpa polusi, dan rela berjalan kaki demi menciptakan lingkungan dengan udara yang bersih dari emisi gas beracun.

Dan yang patut diacungi jempol dari negeri sakura ini adalah, kedisiplinan masyarakatnya. Tak akan kita temukan orang yang berani melanggar rambu lalu lintas, apalagi rela membahayakan nyawanya dengan menerobos palang pembatas jalur kereta api. Bandingkan dengan Indonesia? Rasanya saya tidak perlu menggambarkan perbedaannya. Kita semua pasti sudah sama-sama paham.

Kita seringnya terlalu fokus pada kehebatan mereka, namun melupakan bahwa negara-negara sejenis ini juga memiliki sisi kelamnya. Tahukah kalian bahwa di Jepang, salah satu industri yang banyak memberikan pemasukan bagi perekonomian negaranya adalah industri seks? Coba saja cari artikel lokal maupun internasional terkait tema ini, maka kalian akan mendapati bahwa industri seks di jepang ternyata menempati peringkat ke-2 setelah industri otomotif.

Bagi generasi muda Jepang, adalah hal yang sangat langka untuk mempertahankan keperawanan. Usia SMA adalah usia di mana mereka merasa sudah legal untuk melepaskan status ‘perawan’nya. Bahkan aktivitas ini sudah diketahui oleh orang tuanya sendiri. Yang paling membuat kita bergidik, di negeri yang katanya penuh sopan santun ini, incest atau hubungan sedarah bukan lagi menjadi hal yang tabu untuk dilakukan. Na’udzubillahimindzalik!

Maka dengan melihat secuil fakta ini, (silahkan mendalami lagi jika anda ingin tahu lebih banyak) kita seharusnya bisa menyimpulkan, kesuksesan sebuah negeri seharusnya TIDAK HANYA diukur dari kehebatan teknologi, industri, dan pembangunannya. Yang paling menentukan kesuksesan sebuah negeri adalah, seberapa BERADAB dan BERAGAMA nya masyarakat yang tinggal di negeri tersebut

Wallahu a’lamu bishshawwab.

Sirah Nabawiyah Versi Siapa sih, yang Paling bagus?

“Kita memang kurangnya di kemampuan bahasa arab. Jadi akses kita ke kitab2 nya ulama muktabar memang sulit. Jadi untuk yang awam sekelas kita ini, sekarang harus puas dulu dengan baca kitab2 yang sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia. Semua pasti ada kurang lebih nya, tergantung siapa yang menerjemahkan. Selama kita sudah ikhtiar mencari referensi yang paling baik, secara garis besar, nggak akan banyak perbedaan kok dengan kitab2 ‘tua’ nya. Kalau pun ada kekurangan, in syaa Allah nggak akan sampai bikin kita dapet ilmu yang menyimpang kok. Tapi jangan cukup sampai situ saja, harus juga berusaha belajar bahasa arab lagi selama masih dikasi umur”

Begitu kira2 jawaban musyrifah ketika saya tanyakan seputar sirah nabawiyah versi siapa yang bisa dijadikan referensi paling baik untuk mengetahui kisah hidup Rasulullah

Yang paling banyak direferensikan orang-orang, mungkin adalah “Ar Rahiq Al Makhtum” nya Syaikh Shafiurrahman Al Mubarakfuri. Karena kitab ini juga sudah di translate ke berbagai bahasa, salah satunya bahasa indonesia. Dan karena bacanya nggak terlalu ‘njelimet. Langsung menceritakan point2 penting kisahnya

Tapi kalau mau cari sensasi yang sedikit berbeda, mungkin juga bisa baca kitab yang ada di bawah, Sirah karangan Prof. Rawwas Qol’ahji. Kenapa sensasinya beda? Karena di sini beliau sebagai peneliti dan pengarang menekankan pada sisi politis dari kehidupan Rasulullah saw. Karena memang kehidupan Beliau saw. sebagian besar berisikan misi mengemban sebuah ideologi yang paripurna

Bukan bermaksud mengkerdilkan kredibilitas salah satu dan meninggikan penulis yang lain. Jujur, ini cuma sekedar review dari saya sebagai pembaca saja. Memang rasanya kalau baca sirah karangan prof. Rawwas, pembaca seperti diajak untuk terjun langsung ke dalam ceritanya, bisa membayangkan sensasi berada di masa itu, dan kita jadi bisa lebih memahami maksud yang tersirat dari seluruh sikap, keputusan, diamnya, dan anjuran Rasulullah. Tapi secara garis besar, kedua buku ini isinya hampir sama

Kalau teman2 mau cari referensi Sirah Nabawiyah, mungkin dua buku ini bisa dikombinasikan

Selamat membaca 😊

END stories of a man named Chester Bennington

 

I hardly believe that i was a part of his fans when in junior high school…kebayang nggak sih anak cewek make jilbab kepala nya ngehentak2 pas dengerin lagunya linkin park? Oh yeah, That was me -..-”
Rasanya anak2 ABG yang lagi tinggi jiwa rebellious nya memang akan sangat mudah suka sama lirik2 lagu nya linkin park. Gimana nggak? Coba deh cermati lirik lagu breaking the habits atau NUMB, contohnya. Kalau boleh jujur, asli deh itu keren banget
Seiring dengan bertambah dewasanya usia kita, seharusnya semakin bertambah dewasa pula cara kita menyikapi suatu kondisi atau masalah. Dan jika kita harus menilai dari kacamata orang dewasa, bentuk ke ‘rebellious’an penyanyi dan penulis lagu nya sendiri terhadap kehidupan yang dia alami justru salah jalan dan akhirnya menemui jalan buntu yang malah mengantarkan dia pada pilihan ‘mati bunuh diri’.
Saya nggak bilang dia nggak dewasa. Bukan, sungguh. Umurnya saja sudah 41 tahun sekarang. Tapi bentuk kedewasaan yang dia tunjukkan berbeda 180 derajat dengan bentuk kedewasaan pemikiran yang ditawarkan islam. Kita orang islam kan? Maka kita harus melihat kasus ini juga dari sudut pandang islam, bukan dengan sudut pandang lain.
Kalau misalkan kita memaksa melihat dari sudut pandang lain, pasti pendapatnya akan kira-kira seperti ini, “Dia kan hidup dan besar di lingkungan yang keras. Dia pernah mengalami berbagai pelecehan semasa kecilnya. Wajarlah kalau hidupnya juga amburadul. Ngedrugs, alkoholik, seks bebas, ya wajar itu. Coba kalau kita di posisi dia, apa bisa bertahan? Apa bisa jadi sesukses dia dan menginspirasi banyak orang? Apa bisa selamat dari kecanduan? Nggak mungkin”
Tapi kalau dilihat dari sudut pandang islam, pendapatnya akan jadi begini kira-kira, “memang benar dia punya masa lalu yang kelam. Kita juga tidak bisa mengatakan masa lalu bagi anak2 remaja di palestina tidak kelam, bukan? Mereka sama-sama tumbuh dan dewasa dalam teror, bahkan di palestina mereka sudah bersiap untuk mati syahid. Tapi disitulah letak bedanya didikan barat dan didikan islam. Didikan barat akan mencari pemuasan dan jalan keluar dengan cara-cara yang jauh dari agama, sedangkan didikan islam akan mencari ketenangan batin dan jalan keluar dari sisi Rabb nya”
Ketika anak sudah mencapai masa akil baligh, maka menurut pandangan islam, akal nya telah sempurna. Sempurna dalam artian dengan akal itu dia sudah bisa dan wajib hukumnya mencari kebenaran tentang Tuhannya, mengenal siapa penciptanya, mencari jawaban dari 3 simpul besar pertanyaan “Dari mana kamu berasal? Untuk apa kamu diciptakan? Dan, Kemana kamu setelah mati nanti?”.
Jika chester benington, atau kita semua, dididik dengan didikan islam yang menitik beratkan akidah dan akhlak sejak masih kecil, in syaa Allah tidak akan susah bagi kita menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Pun, jika kita tidak mendapatkan didikan semacam itu sejak masih kecil, tetaplah wajib hukumnya bagi setiap manusia yang mencapai masa akil baligh untuk mencari tahu tentang siapa dirinya.
Sehingga ketika jawabannya sudah dipegang dengan erat, argumentasi yang menyertainya sudah kita dalami dengan sebaik-baiknya, dan dalil aqli dan naqli yang mendasarinya sudah benar-benar kita pahami, in syaa Allah tidak akan ada ceritanya seseorang tersesat ke jalan yang salah, melupakan peran Tuhan yang mengatur hidupnya, melampiaskan segala stres yang dialami dengan narkotika dan alkohol, bahkan sampai bunuh diri karena dia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa atas segala masalah yang menimpanya. Kecuali, mungkin, jika dia tergerus oleh pergaulan. Pergaulan yang justru mengantarkan dia untuk jauh dari aturan dan hukum-hukum Allah.
Jika seseorang percaya akan adanya Tuhan, bahkan jika kepercayaan itu hanya sedikit sekali tersisa dalam dirinya, rasanya tak mungkin jika dia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dia pasti akan bertawakkal pada Allah, karena tahu ujian seberat apapun itu semua datang dari Allah untuk menaikkan derajatnya diantara manusia lainnya.
Saya mungkin nggak terlahir dari lingkungan sekelam chester (alhamdulillah). Saya mungkin nggak berhak menghakimi dia. Sejujurnya saya kagum sekali dengan bakat yang dia miliki andaikan bakat itu digunakan di jalan Allah. Tapi sebagai mantan fans (hehe) saya cuma mau sedikit berusaha melihat ini dari sisi islam. Dengan membandingkan kisah hidup seseorang yang saya kenal, yang juga punya masa lalu hampir sekelam chester, tapi alhamdulillah dia memilih jalan taubat, berhijrah dan menemukan kebesaran Allah yang telah mengatur hidupnya.
Memang, kehebatan Allah itu tiada duanya. Ia tahu betul tabiat manusia seperti apa. Jelas, karena Allah yang menciptakan kita. Maka durhaka sekali rasanya jika kita mengingkari aturan2 yang Dia buat untuk kita, atau malah mencela aturan2 itu. Padahal kita ini makhluk yang lemah. Tanpa Allah, bisa saja hidup kita berakhir sama seperti chester atau para ahli maksiat lainnya.
Na’udzubillahimindzalik…
– Hasya Tasnim

IBU adalah MADRASAH

“Jika kita siapkan, maka kita menyiapkan masyarakat yang baik” – Hijab Alila’s quote

Maka di sinilah pentingnya ‘persiapan pra nikah’ yang matang. Kadang yang kita fokuskan sebelum menikah itu malah persiapan acara ini itu dan sebagainya. Kita lupa tujuan utama menikah menurut syariat itu adalah untuk meneruskan keturunan manusia dan mencetak generasi islam yang tangguh. Kita lupa untuk mengkaji sebanyak-banyak nya ilmu tentang bagaimana menjadi ibu sesuai tuntunan islam, menjadi istri sesuai tuntunan islam, padahal menikah bukan dongeng macam cinderella yang isinya hanya romantika antara dua insan saja

Apalagi di zaman yang serba hancur ini. Rasanya mengerikan sekali jika kita tak punya cukup bekal untuk mendidik anak-anak kita kelak. Jadi, yuk yang masih jomblo jangan kelamaan baper + galau nya, baper dan galau nggak akan membuat kita bisa jadi calon ibu yang tangguh (ini teguran buat saya pribadi sebenarnya, hehehe) luangkan sebanyak-banyaknya waktu untuk mengkaji islam lebih dalam lagi agar kelak kita bisa menciptakan generasi muslim yang kuat menghadapi terpaan zaman

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. Ar Ra’d [13] : 11

Tarawih 1 Juz dan Pemain Inti

Sungguh, malu rasanya menyaksikan para lansia-yang seharusnya sudah tak kuat lagi berdiri selama 2 jam lebih-tak bergeming meskipun ayat yang dibacakan oleh imam terasa lebih panjang dari biasanya

Sedangkan kita para pemuda pemudi yang diharapkan semangatnya bagi peradaban (termasuk saya pribadi) malah memble, baru rokaat ke 9 saja kaki sudah mulai kram, kepala mulai berat, mulut berkali-kali menguap karena rasa kantuk yang menyerang tanpa ampun, kadang malah baru sampai pada rokaat ke 8 sudah mengibarkan bendera putih, menyerah di tengah medan perjuangan

Ada pula kita saksikan para pemuda muslim yang berbondong-bondong i’tikaf di mall dan pusat perbelanjaan lainnya, menggadaikan malam-malam penuh rahmat di bulan romadhon demi sehelai baju baru untuk lebaran yang bahkan ketika dia kenakan tak memberikannya esensi kembali pada fitrah yang ditawarkan akhir perjuangan di bulan yang suci ini

Sempat saya bercakap dengan beberapa dari ibu-ibu ‘pemain inti tarawih’ di salah satu masjid besar di kota mataram, dan mendapati ternyata ini bukan kali pertama mereka mendatangi masjid-masjid sejenis ini, bukan pula pertama kali bagi mereka mengisi shaf-shaf terdepan dalam tiap sholat tarawih panjang di bulan romadhon

Sungguh, selayaknya saya, kita semua yang masih muda, penuh energi dan semangat ini, merasa malu pada mereka. Mungkin ini yang dinamakan kekuatan iman. Iman kita yang tak seberapa ini malah membuat fisik yang bugar dan prima tak berguna apa-apa menghadapi ibadah-ibadah panjang yang justru mampu ditekuni oleh wanita-wanita paruh baya, bahkan wanita-wanita usia lanjut semacam mereka

Padahal mati tak mesti menghampiri mereka yang berusia lanjut saja. Banyak Allah berikan contoh di depan mata, bagaimana seseorang dalam usia yang masih sangat muda sudah dipanggil untuk kembali padaNya. Entah apa lagi yang saya, dan kita semua tunggu untuk bersegera pada ketaatan. Semoga Allah masih berkenan memberi kita lebih banyak lagi kesempatan untuk menyaingi pencapaian ibadah para ‘pemain inti’ tersebut

Sudah Pantaskah Hamba Bergembira?

Kita sudah sampai pada penghujung bulan penuh keberkahan
Setiap insan telah melalui sebulan penuh pertarungan melawan dirinya sendiri
Mengisi tiap-tiap hari di bulan ini dengan caranya sendiri-sendiri
Dan akan mengakhirinya esok malam dengan caranya sendiri-sendiri pula

Yang jadi pertanyaan,
Apa sudah pantas hamba bergembira?
Apa sudah pantas hamba merasa telah meraih kemenangan?
Apa sudah pantas hamba merasa bahwa bulan ini hamba akhiri dengan baik?

Sedangkan ibadah hamba, tetap saja tak semaksimal ibadah mereka yang rela menghabiskan malam-malamnya untuk tidak tidur demi bermunajat sebanyak-banyaknya kepadaMu

Sedangkan akhlak hamba tetap tak berubah menjadi lebih baik, dan hati masih saja tetap menyimpan benih2 keburukan yang bisa tumbuh lagi kapan saja

Sedangkan masih saja rasa malas menang melawan keinginan untuk beribah dan taat kepadaMu

Sedangkan waktu luang masih banyak terbuang untuk hal-hal yang tak mendatangkan manfaat di sisiMu

Sedangkan mengumpulkan pundi2 kekayaan dari pagi hingga petang, menonton drama televisi, menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan, menghamburkan uang untuk meramaikan bioskop2, membaca novel2 romansa dan komik2 yang tak mengundang manfaat masih lebih hamba utamakan dibanding meluangkan waktu untuk menghadiri majelis2 ilmu yang mengajarkan tentang indahnya agamaMu, membaca kitab2 yang mengingatkan akan kebesaranMu, mentadabburi kisah kehidupan Rasulullah dan para sahabat yang dapat mengingatkan hamba akan kecintaan Rasulullah pada agama ini, dan mendakwahkan keagungan agamaMu pada masyarakat

Sudah pantaskah hamba yang sehina ini berbahagia ya Rabb?
Apalah jadinya jika ternyata ini adalah Romadhon terakhir bagi hamba
Sedang hamba masih tetap tak meraih apa-apa dari sekian banyak kesempatan yang Engkau berikan

Apa persiapan terbaik untuk khitbah-ta’aruf?

oleh: ust. Felix Siauw

Bagi saya tidak ada persiapan lebih baik untuk pernikahan, ketimbang mengkaji Islam dan mendakwahkannya

Ini yang jarang diperhatikan, bahwa pernikahan itu SANGAT-SANGAT perlu ilmu, perlu iman, perlu kedewasaan, dan kesemuanya didapatkan dari mengkaji Islam dan mendakwahkannya

Ada kalimat yang perlu direnungkan bagi pencari pasangan yang taat, “mau dibini baru dibina, atau dibina baru dibini?” Maksudnya, mau cari pasangan itu yang sudah di-bina dengan Islam, di-bina dengan dakwah, lalu baru kita jadikan bini (pasangan) atau mau yang awam, belum di-bina, dijadikan pasangan lalu baru di-bina?

Bagi saya, pasangan yang masih awam dengan Islam lalu dinikahi sangat beresiko, walau mungkin secara fisik menarik. Tapi ketertarikan jangka panjang itu sebab ketaatan, bukan fisik

Lha nyatanya, yang sama-sama berada dalam jalan dakwah saja punya masalah, apalagi yang tak memahami Islam sama sekali?

Maka kajilah Islam yang baik, jadikan cinta kita nomor satu kepada Allah dulu, sang pemilik cinta, pemilik hati-hati manusia. Jadikan diri kita pengemban dakwah yang terpercaya, dakwahkan Islam secara serius

Ini yang paling ideal, menggabungkan diri dalam jamaah dakwah, dalam barisan pengemban dakwah di gerakan-gerakan dakwah. Kaji dan dakwahkan Islam disana
Gerakan dakwah yang mana? YANG MANA SAJA selama Islam adalah dasar gerakannya, Al-Quran dan As-Sunnah adalah pegangannya. Banyak kok, di kampus-kampus apalagi

Nah, kalau sudah siap nikah, minta tolong ke ustadz/ah-nya, murabbi/ah-nya, musyrif/ah-nya untuk membantu mencarikan pasangan yang juga sudah siap dan sudah terbina

Bila sudah begitu, insyaAllah bukan hanya pernikahan biasa, tapi pernikahan yang barakah, pernikahan yang sakinah, dan membentuk bukan keluarga biasa, tapi keluarga pengemban dakwah

Alhamdulillah, selesai juga seri khitbah-ta’aruf ini, semoga manfaat ya, dan sekali lagi JANGAN BAPER. Kalau masih punya energi, habiskan buat dakwah dan ibadah

Perang Opini Melawan LGBT

SADARKAH KALIAN BAHWA LGBT SEDANG BERUSAHA MENGENCANGKAN CENGKRAMANNYA, DAN MENGUKUHKAN EKSISTENSINYA?

Mereka memang sedang gencar2nya mengusahakan untuk eksis, agar semakin diakui, agar mereka tidak lagi dianggap sekumpulan manusia dengan kelainan seksual menyimpang, agar makin banyak yang ‘terserang’ virus yang sama

Banyak yang meremehkan pentingnya dakwah dalam hal mengcounter opini2 buruk macam LGBT ini. Coba bayangkan bila hal2 semacam ini terus diperdengarkan dan diperlihatkan di tengah masyarakat, tanpa ada sensor, tanpa ada yang menghalau, tanpa ada yang terus mensyiarkan betapa Allah melaknat perbuatan bejat semacam ini, masyarakat yang awalnya jijik lama2 akan maklum, malah lama2 akan simpati dan mendukung mereka. Na’udzubillahimindzalik !!!

Pernah lihat video clip “symphony” nya zarra larson? Atau coba buka webtoon berbahasa inggris hari ini dan lihatlah apa yang akan anda temukan pada bagian highlight nya ! Itu lah yang kami maksud dengan perusakan opini. Mereka menerobos masuk ke dalam sistem normatif masyarakat, merongrong dari dalam dengan mempengaruhi pola pikir masyarkat, tujuan akhirnya adalah agar mereka didukung, diakui hak2nya, dibiarkan berkembang biak, dibiarkan eksis dan tampil di depan umum layaknya pasangan laki-laki dan perempuan yang sedang berpacaran. Sungguh menjijikkan !!!

Gunakan apapun yang kalian bisa untuk menghalau semua ini. Kalau tidak peduli dengan orang lain, paling tidak lakukan demi anak2 kalian yang kelak akan tumbuh dewasa dan akan berhadapan dengan dunia yang lebih menakutkan daripada saat ini (jika kita tidak mengambil peran untuk menyuarakan penolakan dan kecaman keras terhadap gaya hidup kaum sodom yang dilaknat Allah ini). Sampaikan walau hanya satu ayat yang kau ketahui. Semoga Allah menghitungnya sebagai amal jariyah yang tiada habisnya disisiNya.

MEREKA MAUNYA ANDA DIAM !

oleh: Ust. Felix Siauw

Ada orang memukul saudaranya tanpa sebab apapun, lantas saat saudaranya marah dia berkata “Sabar dong, kita kan sama-sama saudara, cinta damai dong!”

Ada lagi yang mencuri barang kawannya, ketika kita meminta kembali malah dibilang “Bukankah kawan itu berbagi? Jangan pelit deh, dunia nggak akan dibawa mati!”

Ada juga yang memaki-maki temannya, saat temannya marah lantas ia bicara, “Tidak ada gunanya marah, tak ada gunanya mencela, mari kita cari solusinya sama-sama”

Ada pencuri kepergok, yang memergoki kemudian berteriak, lantas sang pencuri malah bicara “Jangan berisik, Kamu mengganggu ketentraman masyarakat!”

Persis sama, ketika ada yang menista agama, memprovokasi dengan menstigmatisasi Islam secara negatif, saat diklarifikasi, malah meracau, “Jangan provokatif!”

Jangan melongo, jangan heran, jangan terperangah, inilah logika yang sedang dibangun buzzer media sosial liberalis, komunis, yang sepaket dengan penista agama

Mereka mau memukul tapi tak ingin konsekuensinya, mau menghina tapi tak mau balasannya, “blame the victim”, sudah makan korban, salahkan korban juga

Dalam situasi internasional, gaya begini sama dengan Yahudi Israel, mereka sebut Muslim Palestina teroris, saat mereka membantai sebutannya “Preemptive Attack”

Siapa yang memainkan peran penting “blame the victim” ini? Tentu saja media, dalam masa sekarang, ya media sosial. Maka tak heran banyak buzzer berkeliaran untuk itu

Lihat saja, ulama-ulama kita yang menyampaikan dalil dari Kitabullah dan Sunnah dicap sebagai provokator, intoleransi dan memecah kesatuan bangsa, semua cap buruk

Kita tak perlu ambil pusing, dalam Islam jelas ada konsep amar ma’ruf nahi munkar, dan semuanya distandarkan dengan syariat yaitu Kitabullah dan Sunnah, semua sudah jelas

Yang diinginkan orang-orang bersuara miring dan nyinyir itu, adalah Anda diam terhadap seluruh kemunkaran yang mereka lakukan, bahkan kalau bisa Anda mendukungnya

Sayangnya, kita tak perlu dengan ucapan manusia, tak peduli dengan penilaian manusia. Kita yakin ketika kita sesuai dan taat pada Allah, Allah akan mudahkan semuanya .